27 Juni 2015
Sekilas Tentang Universitas Gadjah Mada
Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah universitas pertama yang didirikan oleh pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Pembangunan UGM pada awalnya lahir dari harapan para pemimpin bangsa akan masyarakat yang cerdas, mandiri, dan unggul. Bangsa yang bermartabat.
Pada awalnya Universitas Gadjah Mada bernama Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (swasta). Sekolah yang ada tersebar di sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya (Klaten dan Solo). Selanjutnya nama Balai Perguruan Tinggi diubah menjadi Universiteit Gadjah Mada dan merupakan gabungan dari sekolah sekolah tinggi yang ada di Yogyakarta dan sekolah-sekolah di kota tinggi lain.
Saat Universitas Gadjah Mad pertama berdiri kondisinya masih sangat sederhana. Lokasi pengajaran berada di lingkungan keraton jogja, kelengkapan kelas seperti meja dan kursi juga merupakan pinjaman dari pihak keraton. Ruang perkuliahan dan praktikum pun dilaksanakan dengan tempatyang sederhana yaitu di kandang kuda, kamar abdi dalem, kamar kereta, kamar penjaga dan pendopo keraton Yogyakarta.
Sekarang Universitas Gadjah Mada sudah sangat berkembang, terletak di kawasan tanah keraton (sultan ground) Bulaksumur dan sekitarnya. Saat ini ada 18 fakultas, 14 studi program pascasarjana, serta sekolah vokasi dengan total 24 program studi.
Untuk program S1 ada 18 fakultas yang terdiri dari:
1. Fakultas Biologi (http://www.biologi.ugm.ac.id/ )
2. Fakultas Ekonomika & Bisnis (http://feb.ugm.ac.id/ )
3. Fakultas Farmasi (http://farmasi.ugm.ac.id/home )
4. Fakultas Filsafah (http://www.filsafat.ugm.ac.id/ )
5. Fakultas Geografi (http://geo.ugm.ac.id/ )
6. Fakultas Hukum (http://law.ugm.ac.id/ )
7. Fakultas Ilmu Budaya (http://fib.ugm.ac.id/ )
8. Fakultas Isipol (http://fisipol.ugm.ac.id/dev/ )
9. Fakultas Kedokteran (http://fk.ugm.ac.id/ )
10. Fakultas Kedokteran Gigi ( http://www.fkg.ugm.ac.id/ )
11. Fakultas Kedokteran Hewan (http://fkh.ugm.ac.id/site/ )
12. Fakultas Kehutanan (http://www.fkt.ugm.ac.id/ )
13. Fakultas MIPA (http://mipa.ugm.ac.id/web/ )
14. Fakultas Pertanian (http://faperta.ugm.ac.id/ )
15. Fakultas Peternakan (http://fapet.ugm.ac.id/home/ )
16. Fakultas Psikologi (http://psikologi.ugm.ac.id/home )
17. Fakultas Teknik (http://www.fakultas-teknik.ugm.ac.id/ )
18. Fakultas Teknologi Pertanian (http://www.tp.ugm.ac.id/website )
Dengan lebih dari 51.000 mahasiswa dengan sekitar 900 mahasiswa internasional dari 51 negara. Ada lebih dari 3000 dosen dan 2400 karyawan di UGM.
UGM bertekat untuk menjadi Universitas Riset kelas dunia yang unggul, mandiri, bermartabat dengan dijiwai Pancasila mengabdi pada kepentingan dan kemakmuran bangsa.
Rektor UGM adalah Pimpinan Eksekutif tertinggi Universitas Gadjah Mada yang dipilih oleh Senat Universitas dalam suatu sidang Senat beranggotakan para Guru Besar dan wakil-wakil Fakultas di lingkungan UGM. Calon-calon yang ada ditetapkan dan dipilih berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dan disetujui oleh Majelis Wali Amanat yang merupakan lembaga legislatif UGM setelah UGM resmi menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN)).
Sejak berdiri 19 Desember 1949, UGM telah mempunyai 15 orang Rektor. Pimpinan Universitas pertama Prof. Dr. M. Sardjito (1949-1961) yang berasal dari Fakultas Kedokteran UGM belum menyandang sebutan Rektor, melainkan Presiden Universiteit. Rektor yang menjabat saat ini adalah Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Teknik yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. menggantikan Prof. Pratikno yang terpilih menjadi Menteri Sekretaris Negara di Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Aktifitas Mahasiswa UGM di Lingkungan sekolah?
Mahasiswa UGM dapat belajar dengan nyaman di lingkungan sekolah karena sekolah terlihat bersih dan rapih. Selain itu juga sekolah menyediakan sarana prasarana yang dapat menunjang kegiatan mahasiswa untuk belajar di lingkungan dalam sekolah. Mendapatkan teman baru yang banyak juga pastinya akan kita dapatkan bila sekolah di UGM ini, karena mengingat banyaknya mahasiswa yang berbondong-bondong untuk bersekolah disini.
Sekilas Tentang Universitas Airlangga
Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, juga menyimpan sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan tinggi di Indonesia. Unair begitu kental dan berarti. Bukan saja dalam catatan sejarah pendidikan, juga peranannya dalam pergerakan dan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sejarah Universitas Airlangga berawal dari cikal-bakal lembaga pendidikan Nederlands Indische Artsen School (NIAS) dan School Tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT). Masing-masing didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dan 1928. Setelah di masa pergolakan kemerdekaan sempat terganggu kelancarannya, pada tahun 1948 pemerintah pendudukan Belanda mendirikan Tandheelkunding Institut yang merupakan cabang Universiteit Van Indonesie Jakarta, dan membuka kembali NIAS yang kemudian diberi nama Fakulteit der Geneeskunde, yang juga sebagai cabang Universiteit Van Indonesie, Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia baru secara resmi membuka Universitas Airlangga, Surabaya, yang merupakan lembaga pendidikan tinggi pertama di kawasan timur Indonesia. Universitas Airlangga diresmikan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno tanggal 10 November 1954, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan yang ke-9. Universitas Airlangga didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.57 tahun 1954. Universitas Airlangga dipersembahkan untuk Kota Surabaya untuk menunjukkan apresiasi atas pengorbanan yang dilakukan Arek-arek Suroboyo yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Dengan didahului membuka selubung arca Wisnu berwarna kuning emas dan biru, Presiden Soekarno meresmikan Universitas Airlangga. Untuk mengabadikan arca tersebut, atas saran Prof HRM Soejoenoes, warna selubung ditetapkan sebagai warna bendera Universitas Airlangga. Kuning berarti agung, dan biru tanda ksatria dan jiwa yang mendalam.
Nama Airlangga dipilih oleh para pendiri Universitas Airlangga sebagai suatu perwujudan penghormatan terhadap seorang Raja yang sekaligus sebagai Pahlawan Bangsa Indonesia di masa lampau dalam abad IX yang bernama Prabu Airlangga, yang memerintah kerajaan di Jawa Timur hingga wilayahnya mencapai Indonesia Timur. Airlangga yang berarti “Peminum Air” adalah nama dari seorang raja yang memerintah di Jawa Timur di masa 1019-1042. Kemungkinan besar Airlangga lahir di Bali, karena ketika ia lahir tahun 1001, orang tuanya memerintah di luar Bali, sebagai utusan dan menjadi Raja Jawa. Ibunya Sri Gunaprijadharmapatmi, atau Mahendradatta, dan ayahnya Sri Dharmodayanawarmadewa, yang biasa dipanggil Udayana. Mahendradatta adalah keturunan Empu Sendok yang sangat ternama, la juga masih saudara dari Raja Makuttawangsawardana di Jawa, yang kemungkinan besar juga memerintah sebagai utusan di luar Bali, sebagai perwakilan ayahnya dan dibantu suaminya, Udayana.
Sekitar tahun 1000, Raja Jawa Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramattunggadewa, dijadikan suami dari saudara perempuan Mahendradatta. Di tahun 1016 Pangeran Airlangga, yang masih 16 tahun diangkat menjadi menantu Dharmawangsa. Di tahun yang sama, sebuah bencana menimpa Jawa Timur. Pertama, sebuah serangan besar yang dilakukan oleh Sriwjaya di bawah pimpinan Haji Wurawari. Setelah itu terjadi pemberontakan dari dalam pecah. Raja Dharmawangsa tewas, ibukota direbut musuh, dan kerajaan terpecah. Pangeran Airlangga yang disertai pengikut setia, melarikan diri ke hutan. Dan di sanalah ia mulai melakukan meditasi kehidupan, dan mempersiapkan diri untuk tugas berikutnya.
Di tahun 1019 Airlangga dinobatkan sebagai raja oleh para pengikutnya, dan memerintah hingga 1042. Nama lengkapnya sebagai raja adalah Rakar Galu Sri Lakeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramattunggadewa. Dalam kurun periode lebih dari 20 tahun, Airlangga sukses memperkuat posisinya dan meraih kembali kedudukannya sebagai raja. Bahkan wilayah kekuasaannya menjadi lebih luas. Selain seluruh Jawa Timur, juga sebagian dari Kepulauan Sumba (Nusa Tenggara). Dan akhirnya di Indonesia tumbuh menjadi dua kerajaan besar; di timur Kerajaan Airlangga, dan di barat Kerajaan Sriwijaya, dengan pusat pemerintahan di Palembang. Sejak Airlangga menjadi raja, muncul kebijakan untuk memperbaiki hubungan dengan Sriwijaya. Dan hasilnya, ia menikahi saudara perempuan raja Sriwjaya tahun 1023.
Dengan kerja keras Airlangga berusaha mengembangkan kehidupan damai dalam bermasyarakat dan bernegara, la mencoba menyelaraskan dua kerajaan dan kekuatan besar, yang diyakini sebagai usaha awal untuk membangun jalan kesatuan Indonesia. Selama memerintah Airlangga mengerahkan seluruh energi untuk mengembangkan kemakmuran bagi rakyatnya, la mulai mengembangkan irigasi, komunikasi, dan perdagangan, la juga menaruh perhatian yang tinggi pada bidang pendidikan dan kehidupan spiritual. Dengan kehidupan spiritualnya yang tinggi, ia kemudian juga dinobatkan sebagai pemuka agama dengan nama Resi Gentaya.
Setelah wafat tahun 1042, ia diabadikan dalam bentuk patung yang menunjukkan Airlangga sebagai Batara Wishnu sedang mengendarai Garuda dan membawa guci. Airlangga diyakini telah dipilih Tuhan untuk menghalau malapetaka, mengembangkan kemakmuran dan kebahagiaan, serta menyempurnakan Hukum Suci, sebagai pilar kehidupan bermasyarakat. Pendek kata, Airlangga memegang tugas kunci untuk membangan negara yang berbasis keadilan. Di awal kelahiran Universitas Airlangga, rektor pertama Prof Mr AG Pringgodigdo menemukan meterai atau segel Prabu Airlangga di Gedung Arca, Museum Nasional, Jakarta. Meterai kerajaan tersebut menggambarkan burung garuda tunggangan wisnu yang membawa guci berisikan air amrta. Konon, air tersebut dapat menghidupkan orang yang telah meninggal dan bersifat abadi. Tungganggan Wisnu itulah yang disebut Garuda Muka, dipakai sebagai lambang Universitas Airlangga sebagai sumber ilmu abadi.
Pada saat didirikan Universitas Airlangga tampil dengan lima fakultas, yaitu:
Fakultas Kedokteran, yang semula cabang dari Universitas Indonesia.
Fakultas Kedokteran Gigi, yang semula cabang dari Universitas Indonesia.
Fakultas Hukum, yang semula cabang dari Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik Universi tas Gajah Mada
Fakultas Sastra yang berkedudukan di Denpasar Bali, yang pada tahun 1962 memisahkan diri dari Universitas Airlangga.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan berkedudukan di Malang, yang pada tahun 1963 memisahkan diri dari Universitas Airlangga.
Dalam perjalanan sejarah kelembagaan Universitas Airlangga lahirlah berturut-turut Fakultas-Fakultas yang lain:
Fakultas Ekonomi, berdiri tahun 1961.
Fakultas Farmasi, berdiri tahun 1965.
Fakultas Kedokteran Hewan, berdiri tahun 1972.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, berdiri tahun 1977
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, berdiri tahun 1982.
Fakultas Pasca Sarjana, berdiri tahun 1982 berubah nama menjadi program Pasca Sarjana
Fakultas Non Gelar Kesehatan, lembaga ini telah ditiadakan dan kemudian diintegrasikan kedalam Fakultas Kedokteran.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, berdiri tahun 1993.
Fakultas Psikologi, berdiri tahun 1993.
Fakultas Sastra, berdiri tahun 1999 yang sebelumnya merupakan salah satu program studi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Tanpa terasa, kini Universitas Airlangga telah memasuki gerbang 50 tahun, sebuah tahun emas yang menyiratkan sejuta makna. Bukan saja bagi rektorat, tetapi juga seluruh civitas akademika, alumni, dan siapa saja yang punya ikatan hati dengan kampus ini. Upacara perayaan 50 Tahun Unair dibuka Sabtu (10/ ^2004) dengan suasana meriah dan kesan yang lain. Keluarga besar Unair melakukan pawai kota dengan iringan dokar hias dari kampus B – kampus A – kampus C. Beberapa mahasiswa, dosen, dan karyawan Unair tampak bersemangat mengikuti acara pembukaan Dies Natalis yang berlangsung sejak pukul 0700 itu. Acara yang dibuka secara langsung oleh Rektor, Prof. Dr. Med. Puruhito, dr, tersebut dihadiri juga oleh Ketua Dewan Penyantun Unair, H. M. Noer, mantan Rektor, Prof. H.R. Soedarso Djojonegoro, dr, Sekdaprov Jatim Soekarwo, para Pembantu Rektor, para Dekan dan Pembantu Dekan, serta beberapa undangan lain.
Sekitar pukul 0730 WIB, rombongan pawai dokar hias mulai diberangkatkan dari halaman Rektorat lama di kampus B, Jl Airlangga Surabaya. Sebagai pembuka, tampak sosok Prabu Airlangga yang dikawal oleh beberapa punggawa menaiki kuda dengan membawa panji-panji Universitas Airlangga. Di belakangnya, berbaris rombongan dokar yang dinaiki oleh Rektor, Pembantu Rektor, para Dekan, serta beberapa pejabat Unair. Kesemuanya berjumlah 20 dokar yang telah dihias sedemikian rupa. Keluar dari pintu gedung Rektorat lama, diiringi satuan Patwal, pawai mulai bergerak menuju gedung Karunair di Kampus C. Secara berurutan pawai dokar hias 50 tahun Unair tersebut melewati jalan-jalan di depan RSU Dr. Soetomo, menelusuri kampus A Unair, Jl Dharmahusada, membelah perumahan Galaxi, dan kemudian berhenti di kampus C, Mulyorejo Surabaya. Tiba di depan gerbang sebelah Selatan, pawai dokar langsung disambut kelompok hadrah hingga menuju halaman gedung Karunair.
Setelah tiba, Rektor berkenan memberi sambutan perihal opening ceremony peringatan 50 tahun Universitas Airlangga. Sejak didirikan 10 November 1954, salah satu universitas tertua di Indonesia ini mengalami perjalanan yang berliku. Status dari NIAS ke Unair tidaklah mudah, dan sempat ditutup oleh Jepang yang menduduki Indonesia kala itu. “Semoga peringatan 50 tahun yang dibuka hari ini, mampu membawa Unair ke arah lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera;’ tutur Rektor. Semua seremoni tersebut juga didokumentasikan di dalam Tabloid Warta Unair edisi Dies Natalis yang kembali terbit dengan Pimpinan Redaksi dr Agus Harianto SpA(K). Acara dilanjutkan dengan pemukulan gong pertama. Berikutnya, giliran para Dekan yang berkesempatan memukul gong yang berukuran lebih kecil. Kemudian, Rektor berjalan ke arah depan Karunair untuk melepas 500 balon ke udara, menandai peringatan tahun emas Unair kali ini.
Acara pagi hari itu dilanjutkan di dalam gedung, dengan penyerahan sampul buku 50 tahun Universitas Airlangga berjudul Melangkah di Tahun Emas. Yang tak kalah meriah adalah pelelangan prangko 50 tahun Unair. Memang pada kesempatan tersebut Unair juga menerbitkan prangko 50 tahun Unair. “Ini merupakan yang pertama di Indonesia Timur” ujar Drs. Ec. Mashariono. Sebelum dilelang, prangko terbit hari pertama yang didesain oleh dr Agus Harianto SpA(K) dan Prof Doddy M Soebadi MD PhD, tersebut dibubuhi tanda tangan emas dari Rektor Unair bersama Kakanwil Wilayah VII PT. Pos Indonesia Soebandi MBA. Di awal pelelangan pemandu mematok angka Rp 50 juta untuk penjualan sampul prangko ini. Akhirnya, tak sampai 15 menit pelelangan ditutup, karena memang sudah berhasil menyentuh target Rp 50 juta dan dimenangkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat dan diterima langsung oleh Dekannya Prof Dr H Tjipto Suwandi dr MOH.
Unair kini sedang terus menggeliat, menatap hari esok yang lebih baik. Unair telah menancapkan sebuah tonggak besar dalam sejarah pendidikan dan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan penuh citra, Unair berdiri tegak di sudut hati bangsa Indonesia.
Sekilas Tentang Universitas Indonesia
Universitas Indonesia (UI) merupakan universitas tertua di Indonesia. Berawal dari Sekolah Dokter Jawa di tahun 1849, UI menjadi salah satu universitas terbaik di Indonesia. Alumni UI telah melalang buana dalam membangun negeri ini bahkan turut serta dalam membangun peradaban dunia. UI telah mampu men-trigger berdirinya universitas-universitas lain seperti Institut Pertanian Bogor (Dulu Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan UI), Institut Teknologi Bandung (Dulu Fakultas Teknik, MIPA, dan Seni Rupa UI), Universitas Negeri Jakarta (Dulu Fakultas Pendidikan UI), Universitas Pendidikan Indonesia (Dulu Program Studi Pendidikan Olahraga UI), Universitas Airlangga (Dulu Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Cabang Surabaya UI), dan Universitas Hasanuddin (Dulu Fakultas Ekonomi UI). UI menjelma sebagai salah satu pilar kebangkitan dalam membangun peradaban bangsa Indonesia dalam bidang kesehatan, sosial, budaya, ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan informasi. Alumni UI telah tersebar dalam berbagai bidang kemasyarakatan, pemerintahan, perusahaan, maupun dalam ranah kewirasuhaan. UI mempunyai dua kampus, yaitu di Salemba dan di Depok.
Sejarah UI
Sejarah Universitas Indonesia dapat ditelusuri sejak tahun 1849. Ketika itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan sebuah sekolah yang bertujuan untuk menghasilkan asisten dokter tambahan. Pelajar di sekolah itu mendapatkan pelatihan kedokteran selama dua tahun. Lulusannya diberikan sertifikat untuk melakukan perawatan-perawatan tingkat dasar serta mendapatkan gelar Dokter Jawa (Javanese Doctor), bergelar demikian karena dokter ini hanya diberi izin untuk membuka praktek di wilayah Hindia Belanda, terutama di pulau Jawa. Pada tahun 1864, program pendidikan tersebut ditambah waktunya menjadi tiga tahun, dan pada tahun 1875 menjadi 7 tahun. Gelar yang diberikan pun berubah menjadi Dokter Medis (Medical Doctor).
Pada tahun 1898, pemerintah kolonial mendirikan sekolah baru untuk melatih tenaga medis, yaitu STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Pendidikan di STOVIA berlangsung selama 9 tahun: 3 tahun setingkat SMP, tiga tahun setingkat SMA, dan tiga tahun lainnya setingkat Diploma. Banyak lulusan STOVIA yang kemudian memainkan peranan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1924 pemerintah kolonial mendirikan RHS (Rechtshoogeschool te Batavia – Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta) yang bertujuan untuk memenuhi tenaga administrasi sipil rendahan. RHS inilah yang menjadi cikal-bakal Fakultas Hukum UI. Pada tahun 1927 mengubah status dan nama STOVIA menjadi GHS (Geneeskundige Hogeschool). Gedung pendidikan dan pelatihan kedokteran yang digunakan GHS menjadi gedung Fakultas Kedokteran UI saat ini. Banyak alumni GHS yang kemudian berperan besar dalam pendirian Universitas Indonesia.
Setelah kemerdekaan Indonesia dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) didirikan di Jakarta. BPTRI memiliki tiga fakultas, yaitu Kedokteran dan Farmasi, Sastra, dan Hukum. Pada tahun yang sama, institusi ini berhasil meluluskan 90 orang sebagai dokter. Ketika tentara kolonial Belanda kembali menguasai Jakarta pada akhir tahun 1945, BPTRI dipindahkan ke Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Pada tanggal 21 Juni 1946 NICA mendirikan sebuah Nood Universiteit atau Universitas Sementara di Jakarta. Pada tanggal 21 Maret 1947, nama Nood Universiteit diganti menjadi Universiteit van Indonesie (UVI). Akhirnya, setelah Jakarta berhasil diambil alih kembali, pemerintah mengembalikan BPTRI ke Jakarta dan menggabungkannya dengan Universiteit van Indonesie, dan memberinya nama baru Universiteit Indonesia (UI).
UI secara resmi memulai kegiatannya pada 2 Februari 1950 dengan presiden (saat ini disebut rektor) pertamanya Ir. R.M. Pandji Soerachman Tjokroadisoerio. Kantor Presiden Universiteit Indonesia mula-mula berkedudukan di Jakarta, tepatnya di gedung Fakultas Kedokteran di Jl Salemba Raya no. 6, kemudian dipindahkan ke salah satu bangunan bekas pabrik madat di Jl. Samlemba Raya no. 4, Jakarta. Tanggal 2 Februari 1950 kemudian dijadikan hari kelahiran Universitas Indonesia.
Awalnya, UI memiliki 9 fakultas dan 3 lembaga yang tersebar di lima kota, yaitu Fakulteit Kedokteran, Fakulteit Ilmu Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, serta Fakulteit Sastra dan Filsafat di Jakarta; Fakulteit Ilmu Alam dan Ilmu Pasti, Fakulteit Ilmu Pengetahuan Teknik, dan Lembaga Pendidikan Guru Menggambar di Bandung; Fakulteit Pertanian dan Fakulteit Kedokteran Hewan di Bogor; Fakulteit Ekonomi di Makassar; Fakulteit Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi di Surabaya.
Pada tahun 1955, Undang-Undang No. 10 tentang pengubahan kata universiteit, universitet, dan universitit disyahkan, sehingga sejak itu, Universiteit Indonesia secara resmi diubah namanya menjadi Universitas Indonesia.
Berangsur-angsur fakultas-fakultas yang berada di daerah memisahkan diri membentuk lembaga pendidikan yang berdiri sendiri. Pada tanggal 2 Maret 1959 Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam di Bandung memisahkan diri menjadi Institut Teknologi Bandung. Selanjutnya pada 1 September 1963 Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan UI memisahkan diri pula menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kini menjadi perguruan tinggi pertanian terkemuka bertaraf internasional. Fakultas di Surabaya menjadi Universitas Airlangga dan di Makassarmenjadi Universitas Hasanuddin. Pada 1964 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta dan kini berubah kembali menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Ketika Orde Baru dimulai pada tahun 1966, pemerintah menunjuk beberapa guru besar UI untuk menduduki jabatan menteri dengan tujuan untuk memulihkan kembali situasi ekonomi nasional. Sejak saat itu, UI secara konstan telah memberikan kontribusi nyata pada usaha-usaha pemerintah untuk meraih kemakmuran nasional.
Pada tanggal 26 Desember 2000 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 152 tahun 2000, UI ditetapkan sebagai perguruan tinggi berstatus badan hukum milik negara (BHMN). Dalam status tersebut, UI wajib lebih mengedepankan kinerja pengelolaan sebuah universitas publik dengan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, dan transparansi. Status sebagai BHMN tersebut direncanakan akan berakhir paling lambat pada tahun 2013, dan saat ini UI sedang dalam masa transisi pengembalian status menjadi perguruan tinggi negeri. (Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Indonesia tanggal 16 November 2013)
Akademis
UI mempunyai 13 Fakultas, 1 Program Vokasi, dan 1 Program Pasca Sarjana Multidisiplin. Fakultas-fakultas tersebut adalah:
Fakultas Kedokteran (FK)
Fakultas Kedokteran Gigi (FKG)
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Fakultas Teknik (FT)
Fakultas Hukum (FH)
Fakultas Ekonomi (FE)
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB)
Fakultas Psikologi (FPsi)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)
Fakultas Ilmu Komputer (FASILKOM)
Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK)
Fakultas Farmasi (FF)
Program Vokasi
Program Pasca Sarjana Multidisiplin
Fakultas dan program di UI telah mengacu pada standar nasional pemerintah dan telah diakreditasi oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi). Selain itu, beberapa Departemen dan Program Studi di UI telah mendapatkan sertifikasi ISO (Internasional Standar Organization) dan AUN (ASEAN University Network). Hal ini menunjukkan bahwa UI telah melangkah untuk menjadi universitas terbaik di Indonesia dan melebarkan sayap menjadi World Class University.
Fasilitas
UI sebagai universitas unggul mempunyai fasilitas yang representatif dan mendukung kegiatan mahasiswa, staf pengajar, dan karyawan. Fasilitas tersebut antara lain adalah:
Ruang Kuliah yang representatif, full AC, LCD Proyektor, Speaker, OHP, dan Kedap Suara Luar. Kebanyakan Fakultas di UI menerapkan sistem gedung kuliah bersama.
Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa). Biasanya digunakan untuk kegiatan BEM, DPM, dan Unit Kegiatan Mahasiswa UI.
Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM). Diperuntukkan untuk kesehatan mahasiswa UI secara gratis.
Kompleks Wisma Makara. Terdapat penginapan (sekelas hotel bintang 3), kolam renang, ruang pertemuan, dan aula .
Bis Kuning (Bikun). Bis yang berkeliling kampus UI. Senin-Jumat (07.00-21.00) dan Sabtu (07.00-14.00). GRATIS.
Sepeda Kuning (Spekun). Sepeda yang dapat digunakan mengelilingi Kampus UI dengan hanya menunjukkan kartu tanda mahasiswa UI.
Perpustakaan Pusat UI. Perpustakaan dengan koleksi 1 juta judul buku dan merupakan perpustakaan terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu ada fasilitas dan sarana olahraga yang dimiliki oleh UI antara lain:
Stadion
Lapangan sepak bola & futsal
Lompat jangkit
Atletik
Indoor (gymnasium)
Lapangan bulu tangkis
Lapangan bola voli
Lapangan bola basket
Outdoor
Lapangan hoki
Lapangan tenis (4 line)
Lapangan basket (3 line)
Lapangan voli (3 line)
Lapangan bulutangkis (1 line)
Peringkat UI
UI secara konsisten masuk dalam daftar universitas papan atas di dunia. Data terbaru, UI menduduki peringkat ke-217 dalam Peringkat Universitas Dunia QS 2011. Sebelumnya, UI menduduki peringkat ke-250 (2005 dan 2006), ke-395 (2007), ke-287 (2008), ke-201 (2009), dan ke-236 (2010). UI juga menduduki peringkat ke-50 dalam Peringkat Universitas Asia QS 2011.
Pada tahun 2013 ini UI menempati peringkat 309 untuk Peringkat Universitas Dunia QS dan menempati peringkat 64 dalam Peringkat Universitas Asia QS. Meskipun turun, UI masih berada di peringkat 1 apabila dalam wilayah negara Indonesia. Ini membuktikan bahwa kualitas UI sangat membanggakan.
Menurut survey lokal yang terakhir dari Globe Asia (2008) UI mendapat peringkat pertama di antara universitas-universitas di Indonesia . Laporan ini juga didukung oleh Majalah Tempo, sebuah majalah utama di Indonesia, yang melakukan survei dan analisis tentang peringkat universitas dan pendidikan di Indonesia. Universitas Indonesia dinilai sebagai Universitas yang paling vibrant di Indonesia. Sejak tahun 2004, survey majalah Tempo melaporkan fakta bahwa lulusan UI adalah di antara sarjana lulusan terbaik di Indonesia menurut beberapa kriteria seperti kualitas lulusan, citra yang baik, kepuasan industri yang menggunakan tenaga kerja, kualitas pengajaran, metodologi pendidikan, kualitas fasilitas kampus yang berbasis lingkungan taman hutan raya yang hijau, serta keketatan persaingan masuk ke perguruan tinggi.
Unit Kegiatan Mahasiswa
Unit kegiatan mahasiswa merupakan organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas yang fungsinya menampung berbagai minat dan bakat dari para mahasiswa UI. Unit kegiatan mahasiswa tersebut antara lain:
UKM seni
Marching Band Madah Bahana
Orkes Simfoni Mawaditra
Paduan Suara Paragita
Liga Tari Krida Budaya
Teater Mahasiswa
Sinematografi Sinetra
UKM olah raga
Dancesports
Cricket
Bulu tangkis
Softball
Hoki
Bola voli
Atletik
Tenis meja
Tenis lapangan
Sepak bola
Bola basket
Renang
Catur
Bridge
Menembak
Berkuda
Memanah
UKM bela diri
Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI
Tae Kwon Do
Merpati Putih
Karate
Aikido
UKM lain-lain
Nuansa Islam Mahasiswa UI
Wira Makara (Ex. Resimen Mahasiswa)
Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam UI)
Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya
Perhimpunan Fotografi
EDS Komunitas Debat Bahasa Inggris
CEDS (Kewirausahaan)
Persekutuan Oikumene Universitas Indonesia
Keluarga Mahasiswa Katolik UI
Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa UI
Radio Mahasiswa
Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia
Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Indonesia
Himpunan Mahasiswa Islam UI (HMI UI)
Alumni UI
Politik dan Pemerintahan
Abdul Gafur, politisi
Abdoel Halim, Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Halim (1949)
Abdoel Hakim Garuda Nusantara, tokoh HAM
Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Adenan Kapau Gani, Wakil Perdana Menteri (1947—1948)
Antony Zeidra Abidin, politikus
Ali Alatas, diplomat
Akbar Tanjung, politisi
Arief Budiman, aktivis
Armida Alisjahbana Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional pada Kabinet Indonesia Bersatu II
Awang Faroek Ishak, Gubernur Kalimantan Timur
Bachtiar Aly, Politisi
Ben Mboi, Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 1978-1988
Burhan Djabier Magenda, Mantan Politisi, Aktif Sebagai tenaga pengajar
Chusnul Mar’iyah, Anggota KPU 2004, Tokoh Perempuan, Aktif sebagai tenaga pengajar
Cosmas Batubara, politikus, Menteri Perburuhan, Ketua ILO, Aktif sebagai tenaga pengajar
Darwin Zahedy Saleh, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia
Denny Januar Ali, konsultan politik
Djaelani Naro, politikus
Effendi Ghazali, Pakar Komunikasi Politik
Eko Wijayanto, Wakil Mentri Pemberdayaan aparatur negara dan reformasi birokrasi
Endang Rahayu Sedyaningsih, mantan Menteri Kesehatan
Erman Soeparno, politikus
Eki Syachrudin, politikus
Faisal Basri, ekonom dan politikus. Aktif sebagai tenaga pengajar
Fahmi Idris, menteri perindustrian dan politisi partai Golkar
Fauzi Bahar, walikota Padang
Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta 2007—2012
Fahmi Idris, politikus dan pengusaha
Hassan Wirajuda, politikus
Harry Tjan Silalahi, tokoh politik
Heru Cokro, aktivis mahasiswa
Herman Lantang, aktivis mahasiswa
Indra J. Piliang, politikus
Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015
Jero Wacik, politikus
Julian Aldrin Pasha, Juru Bicara Kepresidenan
Juwono Sudarsono, politikus
Koentjaraningrat, Budayawan
Gatot Amrih, Gubernur Kalimantan Tengah periode 1984-1989
M. Rozy Munir, mantan menteri
Marsillam Simanjuntak, Sekretaris Kabinet Januari 2000, Menteri Kehakiman Juni 2001, dan Jaksa Agung Republik Indonesia untuk periode Juli-Agustus 2001.
Meutia Hatta, politikus
Muhaimin Iskandar, politikus dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Muliaman Darmansyah Hadad, Mantan Deputi Gubernur BI, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Mohammad Andi Mattalatta, politikus
Nazarudin Syamsudin, Ketua KPU 2004
Nurul Arifin, politikus; aktris
Rachmat Saleh, mantan Menteri Perdagangan Indonesia tahun 1983 hingga tahun 1988 dan mantan gubernur Bank Indonesia
Rama Pratama, politikus
Radius Prawiro, ekonom dan politikus
Rieke Diah Pitaloka, aktris dan politikus
Ruyandi Hutasoit, mantan ketua Partai Damai Sejahtera
Roy B.B. Janis, politikus
Saleh Afiff, mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi dan Keuangan Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).
Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa
Subroto, mantan Menteri Indonesia dan juga pernah menjabat sebagai Sekjen OPEC
Suharna Surapranata, Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II
Suwardjono Surjaningrat, Menteri Kesehatan Indonesia pada tahun 1978 hingga tahun 1988 pada Kabinet Pembangunan III dan Kabinet Pembangunan IV.
Sofyan Djalil, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Indonesia
Sofyan Wanandi/Liem Bian Koen, Ketua APINDO
Soegiharto, mantan Menteri Negara BUMN di Kabinet Indonesia Bersatu.
Sjachwien Adenan, duta besar RI untuk Maroko
Subur Budhisantoso, politikus
Sri Mulyani, Mantan Menteri Keuangan, Direktur World Bank
Sri Redjeki Sumarjoto, Menteri Negara Pemberdayaan Wanita pada Kabinet Gotong Royong
Sulasikin Murpratomo, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan 1987 hingga tahun 1988
Syahrir, pengusaha pasar modal, politisi
Sjachwien Adenan, duta besar RI untuk Maroko
Theo L. Sambuaga, mantan Menteri Negara Pemukiman dan Prasarana Wilayah Indonesia pada era Kabinet Reformasi Pembangunan
Ubedilah Badrun, aktivis gerakan mahasiswa, pendiri FKSMJ
Widjanarko Puspoyo, politikus
Wirdyaningsih, anggota Bawaslu periode 2008-2012, Aktif sebagai Pengajar
Yusril Ihza Mahendra, politikus
Zubir Amin, diplomat
Akademisi
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, menteri koordinator perekonomian pada Kabinet Gotong Royong, Dekan FEUI periode 1994-2001
Emil Salim, mantan menteri Indonesia. Guru besar tetap dan tenaga pengajar
Faried Anfasa Moeloek Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan
Gumilar Rusliwa Somantri, rektor Universitas Indonesia
Haryati Soebadio,
Hendrik Robbert van Heekeren, ahli analisis ekspedisi prasejarah Indonesia
Jimly Asshiddiqie, Ketua DKPP, Aktif sebagai Pengajar
Mar’ie Muhammad mantan Menteri Keuangan pada periode Orde Baru
Miriam Budiardjo, Guru Besar Ilmu Politik, pendiri AIPI
Miranda Goeltom, ekonom, deputi senior gubernur Bank Indonesia, Guru besar tetap dan pengajar FEUI
Mochtar Kusumaatmadja, akademisi dan diplomat
Mulyana W. Kusumah, akademisi dan mantan anggota KPU
Nugroho Notosusanto, mantan rektor dan mantna Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1985).
Sangkot Marzuki, Direktur Lembaga Eijkman sejak 1992
Selo Soemardjan,
Taufik Basari, advokat, aktivis hak asasi manusia, pendiri Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, mantan aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan akademisi Indonesia, Bakal Calon Legislatif Partai NASDEM.
Terry Mart, penemu partikel subatom D13, Guru Besar tetap dan pengajar Jurusan Fisika FMIPA UI.
Vedi R. Hadiz, ilmuwan sosial
Wahidin Soedirohoesodo, pahlawan nasional
Widjojo Nitisastro, akademisi dan mantan menteri
Wiranto Arismunandar, mantan rektor ITB 1988-1997 dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Penyiaran dan Jurnalisme
Adi Nugroho, presenter
Ajeng Kamaratih, presenter
Aries Susanto, presenter
Alya Rohali, presenter
Ayu Utami, aktivis jurnalis
Feni Rose, presenter, bintang iklan, dan pengusaha
Limystina Novatra, presenter
Lucia Saharui, presenter
Meidiana Hutomo, penyiar berita, presenter, dan pemeran sinetron Indonesia.
Meuthia Kasim penyiar, presenter
Najwa Shihab, presenter
S. K. Trimurti, wartawati, penulis
Satrio Arismunandar, pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
Shahnaz Haque, presenter
Titie Said, ketua Badan Sensor Perfilman Indonesia
Valerina Daniel, presenter
Wianda Pusponegoro, presenter
Ekonomi dan Bisnis
Armida Alisjahbana, kepala BAPPENAS
Batara Ningrat Simatupang, ekonom dan tokoh sosialis
Agus Martowardojo, menteri keuangan Indonesia; mantan direktur utama Bank Mandiri, Bank Permata, Bank Bumiputera, dan Bank Exim.
Anwar Nasution, ketua BPK. Aktif sebagai tenaga pengajar (dosen)
Ali Wardhana, ekonom, mantan menteri keuangan. Dekan FEUI periode 1967-1978
Chatib Basri, menteri keuangan Indonesia (2013-), ekonom, ketua Badan Koordinator Penanaman Modal
Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia
Emirsyah Satar, ekonom dan direktur utama PT Garuda Indonesia
Faisal Basri, ekonom
Eva Riyanti Hutapea, ekonom dan pebisnis
Hotbonar Sinaga, direktur utama PT Jamsostek
J. B. Sumarlin, ekonom dan mantan menteri Indonesia
Rhenald Kasali, penulis
Sri Edi Swasono, ekonom
Sri Mulyani, managing director Bank Dunia; Mantan Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian Indonesia
Sjahrir, ekonom
Tirto Utomo, pengusaha, pendiri perusahaan air minum dalam kemasan Aqua.
Hukum
Abdul Hakim Garuda Nusantara, pengacara dan pejuang HAM
Abdul Rahman Saleh, mantan Jaksa Agung periode 2004—2007
Adnan Buyung Nasution, pengacara terkenal
Charles Himawan, Professor Filsafat Hukum, Lulusan Hukum Harvard
Purwoto Gandasubrata, ketua MA 1992-1994
Gouw Giok Siong, pakar hukum perdata internasional dan hukum antar golongan
Harkristuti Harkrisnowo, mantan Dijen HAM
Maria Farida Indrati, hakim konstitusi Mahkamah Konstitusi Indonesia periode 2008-2013
Nono Anwar Makarim, praktisi hukum
Seni, Sastra, dan Budaya
Achdiat K. Mihardja, sastrawan
Adinegoro, sastrawan
Amanda Roberta Zevannya, Miss Indonesia 2011
Anton Moeliono, ahli bahasa Indonesia
Andien, penyanyi
Andrea Hirata, seniman
Agus R. Sarjono, penyair dan penulis Indonesia
Asep S. Sambodja, sastrawan
Ayatrohaedi. sastrawan
Andrea Hirata, penulis novel best-seller Laskar Pelangi
Arizal, sutradara film
Bahrum Rangkuti, pujangga dan sastrawan
Bernika Irnadianis Ifada, Puteri Indonesia 2000
Bondan Prakoso, musisi
Candra Darusman musikus
Catharina Leimena, guru dan pelatih vokal terkemuka
Christine Panjaitan, penyanyi
Dami N. Toda, kritikus sastra
Desy Ratnasari, akrtis
Donny Damara, aktor
Dono, pelawak
Dude Harlino, aktor
Dian Sastrowardoyo, aktris
Elfonda Mekel, penyanyi
Ello, penyanyi
Erna Libby, aktris
Erwin Gutawa, musisi
Fedi Nuril, aktor Indonesia
Garin Nugroho, sutradara
Ginatri S. Noer, penulis skenario film
Gorys Keraf, ahli bahasa Indonesia
Helvy Tiana Rosa, sastrawan
Handojo, aktor
Harimurti Kridalaksana, pakar linguistik Indonesia
Hans Bague Jassin, pengarang, penyunting, dan kritikus sastra
Ibnu Wahyudi, sastrawan
Indriati Iskak, aktris
Inez Tagor, model, pemain sinetron, presenter
Intan Nuraini, aktris
Jubing Kristianto, gitaris
Jusuf Sjarif Badudu, pakar bahasa Indonesia
Kasino Hadiwibowo, pelawak
Khrisna Mukti, aktor
Mang Udel, pelawak, pembawa acara radio
Mat Solar, aktor
Martinus Antonius Weselinus Brouwer, fenomenolog, psikolog, budayawan
Nicholas Saputra, aktor
Niniek L. Karim, aktris
Nova Riyanti Yusuf, penulis
Nungki Kusumastuti, penari dan aktris
Nugie, musisi
Nurmala Kartini Sjahrir, ketua Asosiasi Antropologi Indonesia
Pepeng, pelawak dan presenter
Prima Rusdi, penulis skenario
Raditya Dika, penulis buku
Ridwan Saidi, budayawan betawi
Rossa, penyanyi
Sapardi Djoko Damono, pujangga
Sheila Dara Aisha, aktris dan penyanyi
Slamet Muljana, ahli bahasa
Srihadi Soedarsono, pelukis
Tapi Omas Ihromi, antropolog
Taufiq Ismail, sastrawan
Teuku Adi Fitrian, musisi
Tuti Indra Malaon, aktris
Okky Asokawati, peragawati, model, bintang iklan, pembawa acara televisi, dan pemain sinetron Indonesia
Radhar Panca Dahana, sastrawan
Widi Puradiredja, drummer band Maliq And D’essentials
Yasmine Zaki Shahab, budayawan betawi
Vena Annisa, aktris dan presenter
Kemanusiaan
Gadis Arivia, filsuf, feminis
Edi Suhardi Ekadjati, sejarawan
Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog dan mantan dekan Fakultas Psikologi UI
Kesehatan
Sujudi, Menteri Kesehatan Indonesia
Siti Fadilah, ahli jantung, Menteri Kesehatan Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu
Hasri Ainun Besari, Ibu Presiden RI Ke-3 , dokter di jerman
Jaringan Kereta Api Indonesia
Pembangunan rel kereta api luar Pulau Jawa yang jika mengacu pada Rencana Induk Perkeretapian Nasional adalah 2030 dipercepat pengerjaannya tahun ini. Alasan utama percepatannya apalagi kalau bukan soal peningkatan kualitas infrastruktur yang menjadi salah satu janji Jokowi saat kampanye pemilihan Presiden 2014 lalu.
Di penghujung 2014 Presiden Jokowi juga berjanji kepada masyarakat Papua untuk membangun jaringan rel kereta api di pulau kaya raya itu. “Studi mengenai jalur kereta api di Papua akan kita mulai tahun depan,” ujar Jokowi waktu itu.
Seperti dikutip dari Detik Finance mengutip Program Strategis Perkeretaapian 2015 – 1019, inilah jaringan rel kereta api luar Pulau Jawa yang sengan dikebut pengerjaannya, yang jika dihitung panjangnya mencapai 3.258:
1). Koridor Pulau Sumatera
- Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Sumatera
Jalur KA baru Bireun – Lhokseumawe – Langsa – Besitang
Jalur KA baru Rantauprapat – Duri – Dumai
Jalur KA baru Duri – Pekanbaru
Jalur KA baru Pekanbaru – Muaro
Jalur KA baru Pekabaru – Jambi – Palembang
Jalur KA baru Simpang – Tanjung Api-Api
Jalur ganda KA Prabumulih – Kertapati
Jalur ganda KA Baturaja – Martapura
Jalur ganda KA Muara Enim – Lahat
Jalur ganda KA Cempaka - Tanjung Karang
Jalur ganda KA Sukamenanti – Tarahan
Jalur KA baru Rejosari/KM3 – Bakauheni
- Reaktivasi Jalur KA
Binjai – Besitang
Padang Panjang – Bukit Tinggi – Payakumbuh
Pariaman – Naras – Sungai Limau
Muaro Kalaban – Muaro
- Pembangunan Kereta Api Perkotaan/Jalur Ganda/Elektrifikasi/Jalur Baru Akses ke Pusat Kegiatan
Perkotaan Medan (Jalur Ganda KA Medan – Araskabu – Kualanamu)
Perkotaan Padang (Padang – BIM dan Padang – Pariaman)
Perkotaan Batam (Batam Center-Bandara Hang Nadim)
Perkotaan Palembang (Monorel)
- Pembangunan Kereta Api Akses Bandara
Bandara Kualanamu, Medan (peningkatan kapasitas)
Bandara Internasional Minangkabau, Padang
Bandara Hang Nadim, Batam
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II
- Pembangunan Kereta Api Akses Pelabuhan
Pelabuhan Lhokseumawe
Pelabuhan Belawan
Pelabuhan Kualatanjung
Pelabuhan Dumai
Pelabuhan Tanjung Api-Api
Pelabuhan Panjang
Pelabuhan Bakauheni
2). Koridor Pulau Kalimantan
- Pembangunan KA Khusus/Batubara/Akses Pelabuhan (Skema KPS)
Muara Wahau - Muara Bengalon
Murung raya – Kutai Barat – Paser – Panajam Paser Utara – Balikpapan
Puruk Cahu – Mangkatib
- Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Kalimantan
Jalur KA baru Tanjung – Paringin – Barabai – Rantau – Martapura – Banjarmasin
Jalur KA baru Balikpapan – Samarinda
Jalur KA baru Tanjung – Balikpapan
Jalur KA baru Banjarmasin – Palangkaraya
Jalur KA baru Palangkaraya – Sangau – Pontianak – Batas Negara
Jalur KA baru Samarinda – Sangata - Tanjung Redep – Batas Negara
- Pembangunan Kereta Api Akses Bandara
Bandara Syamsuddin Noor
3). Koridor Pulau Sulawesi
- Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Sulawesi
Jalur KA baru Manado – Bitung
Jalur KA baru Bitung – Gorontalo – Isimu
Jalur KA baru Pare Pare – Mamuju
Jalur KA baru Makassar – Pare Pare
Jalur KA baru Makassar – Sungguhminasa – Takalar – Bulukumba – Watampone
Jalur KA baru Mamuju – Palu – Isimu
- Pembangunan Kereta Api Perkotaan
Perkotaan Makassar dan sekitarnya
Perkotaan Manado
- Pembangunan Kereta Api Akses Bandara/Pelabuhan
Bandara Sultan Hasanuddin
Pelabuhan Garonggong, Pelabuhan New Makassar
Pelabuhan Bitung
4). Koridor Pulau Papua
- Pembangunan Jalur KA baru di Papua baru direncanakan satu, yaitu untuk jalur Sorong-Manokwari
Tragedi Bintaro, Kecelakaan Kereta Api Terburuk Dalam Sejarah Indonesia
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 Oktober 1987. Saat itu, KA 225 Jurusan Rangkasbitung – Jakarta yang dipimpin oleh masinis Slamet Suradio, asistennya Soleh, dan seorang kondektur, Syafei berhenti di jalur 3 Stasiun Sudimara. Kereta yang ditarik oleh lokomotif BB30317 dalam keadaaan sarat penumpang, yaitu sekitar 700 penumpang didalamnya. KA 225 tersebut bersilang dengan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang – Merak yg dipimpin oleh masinis Amung Sunarya dgn asistennya Mujiono. Kereta yg ditarik oleh lokomotif BB30617 ini bermuatan kurang lebih 500 penumpang, dan berada di jalur 2 Stasiun Kebayoran Lama.
Di Stasiun Sudimara sendiri, terdapat 3 jalur yang saat itu sedang penuh dengan KA. Mengetahui hal tersebut, Djamhari selaku kepala PPKA ( Pengatur Perjalanan Kereta Api ) Stasiun Sudimara menghubungi Stasiun Kebayoran Lama untuk melakukan persilangan jalur di Stasiun Kebayoran Lama, namun Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama, Umriyadi / Umrihadi menolaknya dan tetap meminta persilangan dilakukan di Stasiun Sudimara.
Mau tak mau, Djamhari kemudian mengosongkan jalur 2 untuk menampung KA 220 Patas yang telah berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama setelah mendapat izin dari Kepala PPKA dengan memindahkan KA 225 ke jalur 1. Djambhari kemudian memerintahkan Juru Langsir untuk memberi tahu masinis jika KA 225 hendak dipindah ke jalur 1. Juru Langsir kemudian memberi peringatan kepada masinis dan penumpang dengan mengibaskan Bendera Merah dan meniup peluit Semboyan 46 ( tanda kepada masinis dan penumpang jika kereta akan dilangsir )tanpa membatalkan perintah persilangan yang terlanjur diberikan kepada masinis KA 225.
Masinis KA 225 mendengar bunyi peluit Juru Langsir, namun ia tidak dapat memastikan apakah itu bunyi semboyan 46 atau semboyan 40 ( tanda ketika petugas peron memberi sinyal hijau kepada kondektur KA, artinya jalur telah aman untuk dilalui ). Karena kondisi kereta yang penuh sesak, masinis pun menanyakan kepada penumpang yang berdiri di luar lokomotif, dan orang tersebut menjawab jika sudah waktunya kereta berangkat tanpa memastikan kembali. Maka semboyan 41 ( tanda yang dibunyikan oleh kondektur sebagai respon atas dimengertinya semboyan 40 ), disusul kemudian dibunyikannya semboyan 35 ( masinis membuyikan klakson sebagai tanda kereta akan berangkat ). Sang Masinis tidak tahu jika semboyan 40 belum diberikan olah Kepala PPKA, dan ia memberangkatkan kereta hanya karena jawaban seseorang yang mengatakan jika kereta telah siap untuk berangkat.
Pada pukul 07.00 WIB, KA 225 berangkat tanpa ijin dari Kepala PPKA. Para petugas di Stasiun Sudimara dan Kepala PPKA langsung panik saat mengetahui KA 225 telah berangkat tanpa ijin, apalagi setelah Djamhari dihubungi oleh Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama jika KA 220 Patas juga telah berangkat menuju Sudimara. Juru Langsir kemudian langsung mengejar KA 225 dan berhasil naik gerbong paling belakang,namun sayangnya ia tidak dapat memberi tahu sang masinis, beberapa petugas lain mengejar dengan motor. Djamhari pun mengibaskan Bendera Merah dan menaikturunkan Sinyal Palang KA sebagai peringatan kepada Masinis KA 225, namun anehnya tidak satupun yang terlihat oleh sang Masinis.
Di saat yang genting tersebut, Djamhari kemudian berlari mengejar KA 225 dan berteriak ” Tolong…Pasti Tabrakan…Tolong…Pasti Tabrakan!!! “, namun karena kereta telah berjalan lebih dari 50 km/h maka Djamhari sudah tidak dapat mengejarnya lagi. Kemudian, Djamhari kembali ke Stasiun Sudimara dan menghubungi Stasiun Kebayoran Lama agar KA 220 Patas segera dihentikan di Palang Pintu Pondokbetung.
Sang PPKA kemudian mencoba usaha terakhirnya untuk mencegah terjadinya tabrakan dengan membuyikan Semboyan Bahaya ke Bel Genta perlintasan. Namun bencana seperti sudah ditakdirkan, petugas Palang Pintu Pondokbetung tidak hafal semboyan bahaya tersebut dan menganggapnya sebagai percobaan saja. Sudah dapat ditebak, akibatnya sangat fatal karena KA 220 Patas melaju lurus dengan kecepatan cukup tinggi melewati Palang Pintu Pondokbetung.
Akhirnya, KA 225 yang telah meninggalkan Stasiun Sudimara sejauh 8 km dan berjalan dengan kecepatan kurang lebih 45 km/h bertemu dengan KA 220 Patas yang berjalan dengan kecepatan 25 km/h di Lengkungan S ( dekat tikungan melengkung Bintaro ). Kedua masinis kereta yang sama – sama sarat penumpang tersebut tak ayal kaget bukan kepalang ketika dua kereta tersebut saling bertemu. Masinis Slamet Suradio berusaha mengerem KA, namun dengan muatan penuh seperti itu, kereta membutuhkan jarak sekitar 500 meter untuk berhenti.
Pada pukul 07.10 WIB, suara benturan yang sangat keras terdengar ketika kedua kereta api saling bertabrakan. Karena muatan yang penuh dan massa kedua lokomotif yang besar, mengakibatkan kedua lokomotif seakan – akan tertelan gerbong, kemudian terguling. Masinis dan asisten KA 220 Patas selamat dengan luka ringan karena berjongkok di lantai lokomotif, sedangkan Masinis KA 225 dan asistennya terluka parah. Begitu mengerikannya tabrakan yang terjadi hingga para penumpang yg menjadi korban sulit untuk diidentifikasi lagi karena rusak. Hasil dari penyelidikan mengatakan jika korban paling banyak berasal dari gerbong terdepan dimana gerbong tersebut menabrak lokomotif hingga lokomotif menjepit gerbong. Beberapa saat kemudian, korban yg tewas seketika diperkirakan 72 orang ( ada yang mengatakan 156, 153, 116 orang ), 200 orang tewas setelah sekarat, dan 300 lebih luka – luka.
Tragedi Bintaro merupakan kecelakaan kereta api terbesar yang pernah terjadi Indonesia, celakanya lagi peristiwa itu terjadi akibat dari kelalaian manusia. Masinis yg tidak memastikan bunyi semboyan dengan benar, Kepala PPKA yang kurang berkomunikasi, hingga yang paling fatal, petugas Palang pintu yang tidak hafal semboyan Bel Genta adalah sebagian dari kunci utama penyebab tragedi berdarah ini terjadi. Masinis Slamet Suradio diganjar hukuman 5 tahun kurungan atas kelalaiannya, begitu juga dengan kondektur KA 225 yang harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan, dan Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama Umriyadi yang dipenjara selama 10 tahun.
Tragedi berdarah ini masih menyisakan duka yang sangat dalam bagi keluarga korban, bahkan telah beredar kabar bahwa lokasi kecelakaan kedua KA tersebut menjadi angker dan dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu tempat terangker di Jakarta, setidaknya begitulah kisahnya.
Walaupun tragedi Bintaro merupakan musibah yang diakibatkan oleh kelalaian manusia, namun semua itu tinggal menjadi kenangan dan masa lalu yang kelam bagi Indonesia. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini dan pastinya akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam industri perkeretaapian Indonesia agar lebih baik lagi.
26 April 2014
Psikologi Individual Teori Adler dan Teori Allport
PSIKOLOGI INDIVIDUAL DALAM TEORI ADLER
1. Sejarah Psikologi Individual
Psikologi Individual pertama kali di perkenalkan oleh Alfred Adler. Alfred Adler lahir pada tanggal 7 Februari 1870, di kota Wina, Austria. Anak kedua dari tujuh saudara. Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina tahun 1895. Pada Awal kariernya, Alfred memiliki antusiasme yang tinggi terhadap reformasi sosial. Dia sering menulis artikel-artikel di koran kelompok Sosialis. Pada tahun 1902, Adler di undang untuk bergabung dengan kelompok diskusi kecil oleh Sigmund Freud, seorang ahli Psikoanalisis. Kelompok ini namanya Psychoanalytic Wina Society. Dia sebagai anggota aktif, meskipun tak pernah menganggapnya murid maupun pengikut Freud. Dia tidak setuju dengan asumsi dasar Freud bahwa jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) adalah faktor utama dalam perkembangan kepribadian seseorang.
Freud juga menjelaskan istilah-istilah dalam analogi mesin dan binatang. Sementara Adler berusaha memahami dan mempengaruhi orang untuk meyakini bahwa manusia itu berbeda dengan mesin maupun hewan, seperti konsep-konsep dan nilai-nilai. Cara pandang inilah menjadi ciri dari semua teori yang dikembangkannya. Pada tahun 1911, Alfred mengundurkan diri dari kelompok Freud, dan mengembangkan pemikirannya sendiri. Seperti Psikolanalisis, pandangannya tidak seluas pada pandangan Freud. Pendapat Adler tambah meluas berkat adanya “The American Society of Individual Psychology” yang mempunyai majalah tersendiri yaitu The American Journal of Individual Psychology. Di mana dia sampai membuat karyanya di anggap representatif oleh para ahli yaitu Praxis und Theorie der Individual Psychologie. Pikiran dan perumusan Adler mengenai perasaan-perasaan rendah diri (inferior) dan upaya kompensatoris untuk mendapatkan kekuasaan sebagai faktor dasar dalam perkembangan pribadi, mempercepat munculnya keretakan secara terbuka.
Teori Adler yang sangat terkenal adalah Individual Psychologie yang merupakan sistem psikologi yang bertujuan untuk memahai=mi, mencegah, dan mengobati penyakit-penyakit mental manusia.
2. Pokok-pokok teori Adler
Adapun pengertian pokok-pokok teori Adler sebagai berikut :
1. Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler menekankan penting sifat khas (unik) kepribadian yaitu, Individualitas, Kebulatan, serta Sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupan bersifat individual.
Konsep gaya hidup menerangkan keunikan setiap individu. Setiap individu memiliki gaya hidup tersendiri, dan tidak ada dua orang yang memiliki gaya hidup yang sama. Gaya hidup dibentuk pada masa anak-anak sebagai kompensasi bagi inferioritasnya yang terbentuk dari sikap anak terhadap diri sendiri dan cara anak menghadapi dunia luar. Faktor yang menentukan adalah kreativitas dan tujuan yang akan dicapai anak.
2. Pandangan Teleologis : Finalisme Semu
Dalam pokok ini dipengaruhi oleh filsafat seakan-akan yang dirumuskan oleh Hans Vaihinger dalam bukunya berjudul Die Philosopie Des Als-Ob (1911) yang mengemukakan bahwa hidup manusia dalam cita-cita dan pikiran yang semata-mata bersifat semu dan tidak ada buktinya pasangan dalam realitas.
Dalam filsafat Vaihinger itu, Adler menemukan pengganti determinisme historis Freud yang menekankan faktor konstitusional serta pengalaman masa kanak-kanak, sedangkan Adler menemukan gagasan bahwa manusia lebih di dorong oleh harapan-harapan terhadap masa depan daripada pengalaman-pengalaman masa lampau. Tujuan itu tidak ada di masa depan sebagai bagian daripada suatu rancangan teleologis, melainkan secara subyektif pada waktu kini sebagai keinginan atau cita-cita yang mempengaruhi tingkah laku dewasa ini. Jadi segala aktivitas proses psikis di tentukan oleh motif-motif tertentu, bilamana motif-motif ini tidak disadari oleh yang bersangkutan. Tujuan yang ingin dikejar manusia hanya satu fiksi yaitu satu cita-cita yang tak mungkin direalisasikan, namun kendatipun demikian merupakan pelecut yang nyata bagi usaha manusia, dan karenanya merupakan sumber keterangan dari pemahaman tingkah laku.
3. Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
Pemahaman ini berawal ketika Alfred mempelajari kedokteran, dan menyelidiki tentang orang yang sakit menderita pada daerah tubuh tertentu, sampai dia menemukan jawaban bahwa hal itu terjadi karena terdapat kekurangan-kekurangan kesempurnaan dan minderwertingkeit (inferiority), baik karena dasar maupun karena kelainan dalam perkembangan. Sehingga menerbitkan monograf tentang minderwertingkeit von organen. Dia memperluas pendapatnya tentang rasa rendah diri itu. Pengertian ini mencakup segala rasa kurang berharga yang timbul karena ketidakmampuan psikologis atau sosial yang dirasa secara subyektif, taupun karena keadaan jasmani yang kurang sempurna.
Adler berpendapat bahwa rasa rendah diri itu bukanlah sutu pertanda ketidakhormatan, melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja rasa endah diri itu berlebih-lebih sehingga manifestinya juga tidak normal, tetapi alam keadaan normal, rasa rendah diri itu sebaga pendorong ke arah kemajuan atau kesempurnaan (superior). Kendatipun rasa rendah diri itu membawa penderitaan , namun hilangnya rasa rendah diri itu tidak mesti berarti datangnya kenikmatan, tetapi mencapai kesempurnaan. Timbulnya rasa rendah diri disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
a. Cacat jasmani
b. Di manjakan
c. Di didik dengan kekerasan
d. Terlantar
e. Merasa di kucilkan
Namun terdapat usaha untuk mengatasi raa rendah diri yang dilakukan individu dengan cara kompensasi, yaitu :
a. Mengatasi kelemahan dengan usaha giat di bidang yang sama
b. Menutupi kelemahan dengan menunjukkan kelebihan diidang lain.
c. Menegembangkan kelebihan yang dimiliki tanpa melihat kekurangannya.
4. Dorongan Pokok
Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu :
a. Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat.
b. Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi pada diri sendiri
Kesimpulan dari dorongan ini bahwa dorongan agresif lebih penting daripada dorongan seksual. Kemudian nafsu agresif (Geltungstrieb) diganti dengan keinginan berkuasa (Wille Zue Match), dan kemudian lagi diganti dengan dorongan superior, dorongan yang berharga, untuk lebih sempurna. Superioritas disini bukanlah keadaan yang obyektif, seperti kedudukan tinggi dan sebagainya, melainkan adalah keadaan subyektif, pengalaman dan perasaan yang cukup berharga. Dorongan berharga ini adalah hal yang ada dalam diri subek sebagai bahan dari hidupnya. Dorongan ini dapat menjelma alam beribu-ribu bentuk atau cara.
5. Dorongan Kemasyarakatan
Dalam bentuk konkretnya dorongan ini misalnya berwujud kooperasi, hubungan sosial, hubungan antarpribadi, mengikatkan diri dalam kelompok, dan sebagainya. Secara teori dalam artinya luas, dorongan kemasyarakatan merupakan dorongan untuk membantu masyarakat guna mencapai tujuan masyarakat yang sempurna. Dalama hubungan ini, Adler menyatakan “Sosial interest is true and inevitable conpensation for all teh natural weaksesses of individual human being” (Adler, 1929, p31)
Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir, pada asarnya manusia adalah makhluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing dan dilatih. Justru karena pendirian itulah dia yakin paedagogisch optimisme dan menyediakan banyak waktu untuk mendirikan klinik bimbingan anak-anak. Jadi dapat digambarkan dari teori Adler, yaitu :
a. Mula-mula manusia di anggap di dorong oleh dorongan untuk mengejar kekuatan dan keuasaan sebagai lantaran untuk mencapai kompensasi bagi rasa rendah dirinya.
b. Selanjutnya manusia di anggapnya didorong oleh dorongan kemasyarakatan yang dibawa sejak lahir yang menyebabkan dia menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Jadi gambaran manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan gambaran tentang manusia kuat, agresif, dan menguasai segala sesuatu. Singkatnya, dorongan kemasyarakatan menggantikan dorongan kekuatan, namun secara keseluruhan kedua pokok yang di ketengahkan di muka itu yaitu dorongan kekuatan dan dorongan kemasyarakatan baginya kedua-duanya sangat penting sebagaimana di nayatakan oleh Adler sendiri bahwa “Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan penting dalam perkembangan kepribadian” (Adler, 1946, p.145 ).
6. Gaya Hidup
Gaya hidup adalah pengertian sentral dalam teori Adler, tetapi juga pengertian paling sukar di jelaskan. Gaya hidup ini adalah prinsip yang dapat dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang yang melatarbelakangi sifat khas seseorang. Tiap orang punya gaya hidup masing-masing. Tiap tingkah laku orang tentu membawakan gaya hidupnya, dia mengamati berangan-angan, berpikir serta bertindak dalam gayanya sendiri yang khas.
Gaya hidup seseorang itu terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, selanjutnya segala pengalaman di hadapi dengan di asimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu. Setelah gaya hidupnya terbentuk, praktis gaya hidupnya tak dapat di ubah lagi; betul orang mungkin dapat memperoleh cara-cara untuk melahirkan atau menampakkan gaya hidupnya: tetapi gaya hidup itu sendiri tidak akan berubah. Menurut Adler, gaya hidup itu di tentukan oleh inferioritas yang khusus, jadi gaya hidup itu adalah suatu bentuk kompensasi terhadap kekurang sempurnaan tertentu.
Teori Adler tentang gaya hidup sebagai dasar tingkah laku ini akhirnya tidak memuaskan diri sendiri. Karena hal iu di pandang terlalu sederhana dan terlalu mekanistis, karena itu dicarinya pengertian yang lebih memadai, dan akhirnya hal itu di kemukakannya : diri yang kreatif.
7. Diri yang kreatif
Diri yang kreatif adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama begi semua tingkah laku. Sehingga sukarnya menjelaskan soal ini karena orang tak dapat menyaksikannya secara langsung akan tetapi hanya menyaksikan lewat manifestinya. Inilah yang mengantarai antara perangsang yang dihadapi individu dengan response yang dilakukannya. Diri yang krestif inilah memberi arti kepada hidup, yang menetapkan tujuan serta membuat alat-alat untuk mencapainya.
8. Konstelasi Keluarga
Kehidupan masa kecil sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Menurut Adler, kepribadian anak pertama, anak tengah, anak terakhir, dan anak tunggal sangat berbeda, karena perlakuan yang diterima dari orang tua dan saudara-saudaranya yang memiliki tingkah laku beragam, sehingga mereka akan mudah mengikuti arus tingkah laku tersebut
9. Tidur dan Mimpi
Hidup kejiwaan merupakan hidup kesatuan jiwa dan raga, yang tercermin dalam keadaan bangun tidur dapat dijadikan pedoman untuk hidup kejiwaan seseorang. Adapun menurut Adler di definisikan sebagai berikut :
a. Tidur Telentang, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat pemberani, bercita-cita tinggi, dan memiliki kemauan kuat.
b. Tidur Bergulung (Mlungker), menunjukkan sifat kurang berani, penakut, kurang berambisi, lemah dalam mengambil keputusan.
c. Tidur Menggeliat tidak Karuan, menunjukkan yang bersangkutan memilii sifat semborono, tidak teratur, dan sejenisnya.
d. Tidur dengan Kaki diatas Bantal, menunjukkan yang bersangkutan memiliki jiwa petualangan, tidak takut terhadap situasi, dan berani melangkah.
e. Orang yang mdah tidur menunjukkan proses penyesuaian dirinya berjalan baik.
f. Orang yang tidurnya berpindah-pindah, atau menangis waktu tidur, menunukkan arti bahwa yang bersangkutan sangat membutuhkan perlindungan karena merasa terancam, tertekan, maupun kesepian.
10. Mengakui Aspek Ketidaksadaran
Sebagai kekuatan dasar aktivitas manusia dan merupakan bagian dari upaya untuk mencapai tujuan yang tidak diketahui.
3. Arti Penting Psikologi Individual
Psikologi Individual mempunyai arti yang penting sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia. Pengertian seperti gambaran semua, rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, dan krefatifitas akan memberikan pedoman penting untuk memahami sesama manusia. Aliran ini tidak memberikan susunan yang teliti mengenai struktur, dinamika, serta perkembangan kepribadian, tetapi mementingkan perumusan petunjuk-petunjuk praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itu justru teori Adler ini mempunyai arti penting, karena hal-hal berikut :
1. Optimisme yang bidang pendidikannya, lain daripada itu pendekatan secara psikologi sosial berarti membuka halaman baru dalam bidang psikologi kepribadian.
2. Penentuan tujuan-tujuan yang susila, seperti :
a. Keharusan memikul tanggung jawab
b. Keberanian menghadapi kesukaran-kesukaran hidup
c. Mengikis dorongan kelakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan
d. Menyelami diri sendiri dan membuka kecenderungan-kecenderungan yang egoistis yang tersembunyi.
Selain itu beberapa kelemahan-kelemahan dalam teori Adler, dilancarkan juga seperti :
a. Kehidupan Jiwa dipandang terlampau sederhana
b. Arti dasar dan keturunan dipandang sangat kecil dan berpengaruh lingkungan di nilai berlebih-lebiham. Hal ini sangat berguna bagi praktek pendidikan akan tetapi secar teori akan mudah mendapat tantangan.
Kerja dan riset Adler mempengaruhi banyak psikolog dan terapis besar yang kemudian mengikuti jejaknya seperti Albert Ellis, Victor Frankl, Rudolf Dreikurs, Rollo May, dan William Glasser.
Psikologi individu melihat pribadi secara menyeluruh dan berfokus pada keunikannya. Pandangan Adler tentang manusia menawarkan sebuah fokus alternatif yang positif dan menyegarkan bagi teori psikoanalisi Freud. Di inti teorinya terdapat sebuah keyakinan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengatasi kelemahan yang disadarinya, untuk kemudian mengembangkan potensinya sendiri menuju aktualisasi diri, apalagi jika ditaruh dalam lingkungan positif, pertumbuhan tersebut akan pasti terjadi. Menurut Adler, perasaan inferior, seseorang biasanya mengalami tiga perasaan tersebut lewat sumber berikut : (a) ketergantungan biologis dan ketergantungan umum layaknya bayi; (b) gambar diri yang dianggap kecil ketika dibandingkan dengan sesuatu yang agung, mulia atau besar; dan (c) inferioritas organ tubuh. Namun dorongan dalam diri sendiri umunya memampukan subyek mengompensasi perasaan-perasaan ini untuk berjuang meraih superioritas dan kesempurnaan.
4. Manusia dalam pandangan Adler
Gambaran Adler mengenai manusia adalah gambaran yang optimis, karena manusia tidak di arahkan oleh kekuatan tidak sadar. Manusia memiliki kebebasan untuk membentuk kekuatan sosial yang berpengaruh pada dirinya dan menggunakannya secara kreatif untuk membangun gaya hidup yang unik. Teori Adler memberi harapan dan memuji hakiat manusia. Konsepnya mengenai manusia lebih memberikan keyakinan kita terhadap kemampuan diri sendiri dan menjadi antitesis dari Pandangan Freud yang suram. Teorinya berfokus pada perasaan rendah diri dan cara untuk mengatasinya, yaitu dalam bentuk overcompnesion (mencoba terlalu keras untuk menebus apa yang kurang). Dia menyatakan bahwa gaya hidup seseorang individu di bentuk pada usia lima tahun. Dia juga menekankan pentingnya kekuatan sosial atau lngkungan sekitar dalam pengembangan kepribadian anak. Menurutnya, setiap orang di lahirkan dengan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan menyadari akan pentingnya masyarakat bagi kehidupannya. Meskipun demikian, pandangan Adler mengenai beberapa aspek manusia berasal dari dalam. Adler mengemukakan suatu ciri unsur psikologi dengan dasar psikologi bahwa :
a. Tingkah laku manusia di motivasikan oleh dorongan-dorongan sosial, karena manusia pada dasarnya makhluk sosial.
b. Manusia memiliki diri yang kreatif. Konsep ini baru untuk mengimbangi objektivitisme dan psikoanalisis klasik. Diri sebagai penyebab tingkah laku manusia.
c. Setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat, dan nilai-nilai yang berbeda dari psikoanalisi klasik yang menekankan keunikan pribadi.
d. Kesadaran sebagai pusat kepribadian. Dalam pemikirannya Adler mengambil alih ide filsafat positivisme yang mengatakan bahwa manusia hidup dengan banyak cita-ckta yang semata-mata fiktif, dan hidup berdasarkan harapan-harapan dan bukan masa lampaunya.
5. Konsep Utama Teori Adler
Konsep utama yang di kembangkan dalam teori Adler sebegai berikut :
a. Prinsip Inferioritas
• Perasaan Inferior
Adler menyatakan bahwa perasann inferior adalah sumber perjuangan bagi manusia. Pertumbuhan individu selama hidupnya terjadi sebgai hasil dari kompensasi, yaitu upaya untuk mengatasi inferioritas (dalam bentuk percitraan yang nyata) dalam diri kita. Perasaan inferior tidak dapat di hilangkan, bahkan sebaliknya memiliki peranan penting karena menyediakan motivasi untuk berjuang dan tumbuh. Proses kompensasi ini dimulai sejak masa bayi. Selama hidupnya manusia akan di arahkan oleh kebutuhan untuk mengatasi perasaan ini dan teruas berjuang untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dalam perkembangan.
• Kompleks Inferioritas
Kompleks Inferioritas (Inferiority Complex) adalah Ketidakmampuan untuk mengatasi perasaan inferior akan membawa bayi pada situasi. Orang dengan kompleks inferioritas memiliki kemiskinan opini tentang diri sendiri dan merasa tidak berdaya. Mereka ini selalu di bantu orang dewasa dalam mencapai tujuan. Kemunculan inferioritas terjadi pada masa kanak-kanak yang terdiri dari inferior organis, pemanjaan, dan pengabaian. Dalam penelitian Adler, menyatakan bahwa kecacatan bagian tuuh akan membentuk kepribadian tertentu yang selalu menunjukkan upaya mengompensasi kecacatan atau kelemahan yang di milikinya. Selain itu pemanjaan anak juga dapat menyebabkan kompleks inferioritas. Dalam lingkungan seperti ini, anak secara alamiah berkembang bahawa dirinya sangat pening dalam situasi apapun dan selalu diberi kesempatan. Ketika dihadapkan pada keharusan menunggu, anak percaya bahwa mereka pasti mempunyai kekurangan pribadi yang merintangi. Sementara untuk anak di abaikan, kondisi ini akan memnculkan kompleks inferioritas. Anak tersebut akan kekurangan kasih sayang karena ada rasa tidak peduli. Dengan demikian, anak akan mengembangkan rasa tidak percaya.
• Kompleks Superioritas
Kompleks Superioritas akan berkembang jika seseorang melakukan kompensasi yang berlebihan (overcompensation), sehingga akan membesar-besarkan kemampuan dan prestasi yang dicapainya. Kecenderungan tingkah laku yang muncul adalah sombong, menjelak-jelekkan orang lain, dan sebagainya.
b. Prinsip Superioritas
Adler menggambarkan perjuangan menuju superior adalah fakta utama dalam hidup (Adler 1930). Superioritas yang dimakud tidak sama dengan dengan makna superior secara umum, atau sama dengan komplek superioritas. Adler menjelaskan bahawa superior yang dimaksud adalah dorongan untuk mencapai kesempurnaan (perfection). Dengan demikian menurut Adler kita berjuang untuk menjadi superior sebagai upaya untuk menyempurnakan diri sendiri sehingga membuat diri kita lengkap dan utuh. Inilah tujuan manusia yaitu mengarahkan diri untuk mencapai keutuhan dan kelengkapan yang berorientasi ke depan. Berbeda dengan Freud yang menyatakan bahwa tingkah laku manusia di tentukan oleh masa lalu (insting dan pengalaman masa anak-anak). Adler melihat bahwa motivasi akan membentuk harapan pada masa depan. Oleh karena itu, hanya superioritas atau kesempurnaan yang dapat menerangkan kepribadian.
c. Finalisme Semu
Adler menerapkan konsep finalisme sebagai konsep yang memiliki tujuan utama (ultime goal) dalam mencapai kondisi akhir dari keberadaan dan keinginan untuk bergerak ke depan. Adler percaya bahwa tujuan utama yang ini kita capai adalah bayangan semu yang tidak dapat diuji dalam kenyataan. Adler memformulasikan konsep ini dengan finalisme semu (fictional finalisme), sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa pikiran semu akan mengantarkan kita untuk berperilaku tertentu sebagai upaya memenuhi keyakinan. Formulasi terbaik dai perkembangan keberadaan fiksi semu manusia adalah konsep mengenai Tuhan. Ada dua point dalam menjadi superior, pertama meningkatkan tekanan, bukan meredakan tekanan. Kedua perjuangan menjadi superior yang di manifestikan baik oleh individu maupun masyarakat. Dalam pandangan Alder individu dan masyarakat saling berhubungan dan saling bergantungan. Selanjutnya manusia secara terus-menerus berjuan untuk sesuatu yang semu (khayali).
d. Gaya Hidup
Gaya Hidup dalam pandangan Adler yaitu mencapai superioritas melalui cara-cra yang berbeda dengan menggambarkan pola tingkah laku, kebiasan, dan karakteristik yang unik. Setiap anak mengalami perasaan inferior akan memotivasikan dirinya untuuk mengompensasi ketidakberdayaan dan ketidakbergantungan. Dalam melakukan kompensasi tersebut sangat memerlukan tingkah laku. Tingkah laku tersebut merupakan bagian dari gaya hidup dan dirancang untuk mengompensasi keberadaan inferior. Gaya hidup menjadi panduan kerja pola tingkah laku, meskipun bergantung pada interaksi sosial, terutama pada urutan kelahiran dalam keluarga.
• Masa Anak-anak
Menurut Adler maupun Freud, melihat kepribadian atau gaya hidup sebagai sesuatu yang dibentuk pada masa awal kehidupan. Adler merasa ada tiga masa anak-anak yang menjadi dasar situasi yang paling berkontribusi dalam gaya hidup yang rusak. Pertama, organ Inferioritas serta penyakit anak usia dini. Kedua Memanjakan. Pada hal ini anak baik secara di manjakan oleh orang tuanya, segala keinginannya dikabulkan sehingga merubah pola pada anak. Jika ketika anak tidak terkabulkan maka ia akan menunjukkan gejala maupun ekpresinya, sehingga lama-kelamaan akan menyadarkan sendiri bahwa tidak semua keinginannya terkabulkan. Ketiga Pengabaian. Pada hal ini anak menjadi koraban ketidakpedulian orang tua, karena mungkin anak tersebut kurang kasih sayang sehingga anak akan mudah emosi bila di nashati, tetapi lama-kelamaan akan sadar sendiri terkait hal tersebut.
• Diagnosis
Berbagai bentuk ketakutan yang dapat menyebabkan kecemasan maupun kekhawatiran. Agresifitas terbuka dapat menunjukkan tanda-tanda kompleks superioritas. Adler juga menganggap pentingnya mimpi, karena merupakan ekspresi dari gaya hidup yang biasanya mencerminkan tujuan yang ingin dicapai dan masalah-masalah yang dihadapi.
e. Kekuatan Diri Kreatif
Adler berpendapat bahawa keberadaan manusia bebas untuk membuat gaya hidup yang tepat sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya, baik diperoleh dari sambungan genetik maupun lingkungannya. Meskipun tidak spesifik, tetapi dengan tegas Adler menyatakan bahwa gaya hidup kita sudah tidak ditentukan, tetapi kit bebas untuk memilih dan membuat gaya hidup kita. Namun sekali terbentuk, gaya hidup tetap konstan selama hidup. Adler juga menjelaskan beberapa masalah yang bersifat uniiversal dan dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu masalah yang berkaitan dengan perilaku terhadap orang ain, masalah pekerjaan, masalah cinta/asmara. Dia pun mengajukan 4 tipe gaya hidup dasar yang berkaitan dengan masalah-masalah di atas yaitu tipe dominan, tipe menerima, tipe menghindar, dan tipe berguna secara sosial.
f. Minat Sosial
Minat sosial di definisikan dengan potensi dalam diri untuk bekerjasama dengan orang lain demi mencapai tujuan pribadi dan sosial. Adler menggunkan konsep ini berasal dari bahasa Jerman, Gemaynschaftsgefuhl, istilah yang tepat untuk menerjemahkan perasaan masyarakat (Comunity Feeling). (Stepansky, 1983)
Meskipun anusia sangat dipengaruhi oleh kekuatan biologis dan sosial, dalam pandangan Adler potensi minat sosial datangnya dari dalam diri dan menjadi elemen biologis/. Selanjutnya, elemen tersebut mengalami perluasan bergantung pada pengalaman sosial awal. Adler percaya bahwa ibu memanikan peran vital dalam memabngun minat sosial. Oleh karena itu, ibu harus mnengajarkan anak-nakanya untuk dapat bekerjasama dan saling mendukung dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup. Orang yang tidak memiliki perasaan minat sosial akan menjadi neurotik dan mungkin menjadi perilaku kriminal. Adler percaya bahawa rasa kebencian rasial terjadi karena miskinnya perasaan masyarakat.
g. Urutan Kelahiran
Menurut Adler, urutan kelahiran berpengaruh besar terhadap masa kanak-kanak, karena di saat itulah kita mengembangkan gaya hidup. Meskupin memiliki orang tua yang sama dalam satu rumah dengan saudara kandung, dimana selalu mendapat perhatian dan sikap yang berbeda –beda, dan hal tersebut akan menetukan kepribadian. Menurut Adler, 4 situasi yang berkaitan dengan urutan kelahiran, sebagai berikut :
• Anak Pertama
Anak pertama berada dalam situasi yang unik, umumnya mereka menggembirakan luar biasa terhadap kelahiran anak pertama. Anak pertama memiliki kegembiraan dan rasa aman sampai anak kedua lahir. Pada saat anak pertama mempunyai adik, tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus perhatian, menerima cinta dan kasih sayang seperti dulu. Anak pertama merasa kondisi “turun takhta”. Tak seorang pun yang menduga bahwa pergantian yang drastis menyakitkan terjadi dan tanpa mampu melawan. Dia mencoba mendapatkan kembali kekuasaan dan keistimewaan posisinya. Adler yakin bahwa setiap anak pertama merasa keget dengan perubahan statusnya. Meskipun demikian, perasaan kehilangan ini sangat bergantung pada usia anak pertama saat “sang pesaing” lahir. Mereka akan berlatih menjadi lebih berkuasa di banding dengan saudara mudanya. Adler percaya bahwa anak pertama juga memiliki minat yang tidak biasa dalam menjaga keteraturan dan otoritas. Mereka menjadi organizer yang baik, hati-hatu, cermat, dan detil.
• Anak Kedua
Dari awal anak kedua telah menjadi penentu model saudara yang lebih tua. Anak kedua biasanya menjadi penyebab kehebohan atau pergolakan dalam kehidupan anak pertama. Umumna orang tua menerapkan pola pengasuhan yang berbeda terhadap anak kedua. Kompetisi dengan anak pertama akan memotivasi anak kedua. Mereka tidak memiliki kekuasaan, tetapi anak kedua tidak terlalu mempedulikan hal-hal tersebut, mereka lebih optimis terhadap masa depan, lebih kompetitif dan ambisius.
• Anak Paling Muda (Bungsu)
Anak bungsu tidak akan menghadapi kekagetan terhadap penurunan takhta. Anak bungsu sering menjdi kesayangan keluarga, terutama jika jarak umurnya dengan sudaranya lebih jauh. Dorongan untuk melampaui saudara kandung seringkali luar biasa pesat. Anak bungsu selalu berprestasi tinggi diberbagai bidang di masa dewasanya.Kejadian yang terbalik, jika anak bungsu di manja, maka dia percaya bahwa tak perlu belajar atau berusaha keras meraih apapun. Pada masa perkembangannya beberapa anak tidak dapat memelihara ketidaberdayaan dan kebergantungan, tidak biasa untuk berjuang, sehingga pada masa dewasa banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri.
• Anak Tunggal
Anak tunggal tak pernah kehilangan posisi utamanya dalam keluarga. Dia lebih meluangkan waktu bersama orang dewasa. Karena itu, anak tunggal lebih cepat matang karena dia memanifestikan sikap dan tingkah laku orang dewasa. Anak tunggal mungkin mengalami kesulitan ketgiatan di luar rumah. Jika kemampuan yang dimilikinya tidak dapat membuat pengakuan dan perhatian, maka akan timbul kekecewaan besar.
Berdasarkan pengalaman mengenai urutan kelahiran, Adler tidak mengjukan pern yang jelas mengenai perkembangan masa kanak-kanak. Anak tidak secara otomatis membutuhkan karakter tertentu berdasarkan posisinyadalam keluarga. Pernyataan Adler mengenai gaya hidup tertentu berkembang sebagai fungsi dari urutan kelahiran dikombinasikan dengan interaksi sosial pada awal kehidupan. Konsep diri kreatif akan membangun gaya hidup menggunakan kedua pengaruh tersebut.
h. Tipe Psikologis
Adler mengembangkan tipologi kepribadian, menurutnya tedapat 4 tipe yaitu tipe dominan, tipe bersandar, tipe menghindar, dan tipe berguna secara sosial. Tipologi ini didasarkan pada arah energi dan hubungan sosial. Pertama tipe dominan, mereka sejak kanak-kanak memiliki kecenderungan agresif dan dominan terhadap orang lain. Kedua, tipe bersandar. Mereka adalah orang yang peka. Analoginya seperti membuat tempurung di sekelilingnya guna melindungi diri. Mereka tidak memiliki tingkat energi yang rendah sehingga terus bergantung. Apabila tidak sanggup, mereka mengahadapi gejala-gejala seperti neurotik, phobia, dan obsesif. Ketiga, tipe menghindar. Mereka memiliki tingkat energi yang sangat rendah dan hanya dapat bertahan hidup dengan cara menghindar. Keempat, tipe berguna secara sosial. Ini adalah tipe orang yang sehat, memiliki minat sosial dan energi untuk hidup.
Teori mengenai 4 tipe kepribadian ini mirip dengan 4 tipe kepribadian yang dikembangkan oleh orang Yunani Kuno (Hipocrates). Adler percaya bahwa setiap orang adalah individu yang unik dan dapat mengembangkan gaya hidup yang unik. Ide pengembangan konsep mengenai tipologi ini hany bersifat perangkat heuristik, artinya hanya merupakan fiksi, bukan realitas mutlak.
6. Pengaruh Teori Adler
“The American Society of Individual Psychology” yang berperan besar mempengaruhi teori Adler di Amerika Serikat. Sedangkan di Eropa, teori Adler mulai meluas dan banyak pengikut, salah satunya Fritz Kunkel dengan karya utamanya “Einfuhrung in die Charakterkunde” (Zurich; 1928, 1950). Kunkel berpegang teguh kepada dasar pikiran Adler. Pendapatnya bersifat memperkaya Individual Psychology juga dapat di ikuti melalui pengertian-pengertian pokok yang digunakannya. Pendapat Kunkel di kemukakan sebagai berikut :
1. Dua Dorongan Pokok
Kunkel berpendapat bahwa kehidupan jiwa adalah dinamis dan dinamika ini karena oleh adanya dua dorongan yang salinh bertentangan yaitu :
a. Dorongan Keakuan (Inchhaftigkeit atau Unsachlichkeit) dorongan untuk mengabdi kepada aku (diri sendiri).
b. Dorongan Kekitaan (Wirhaftigkeit atau Sachlichkeit) dorongan untuk mengabdi kepada kita (Umum, Dunia Luar, dsb)
Kedua golongan tersebut adanya dalam diri orang berbanding terbalik sesama, artinya semakin besar Inchhaftigkeit berarti semakin kecil Wirhaftigkeit dan sebaliknya. Orang yang bersikap Ichhaftig akan menilai segala sesuatu atas dasar sejauh mana hal yang di hadapi itu berguna bagi usahanya untuk mengejar Ich ideal, kepentingan akunya, sedangkan orang yang bersikap Wirhaftig akan meninjau dari segi kemajuan kemnusiaan (sesama manusia).
2. Termometer Penilai Diri
Termometer Penilai Diri di gambarkan saling berhubungan antara kedua dorongan pokok dalam diri manusia. Hukum psikis di gambarkan sebagai berikut :
Garis yang tegak lurus menggambarkan segala sesuatu yang bersangkutan dengan aku, Jadi Inchhaftigkeit. Derajat-derajat di bawah nol menggambarkan rasa rendah diri, sedangkan derajat di atas nol menggambarkan usaha ke arah superioritas. Garis mendatar menggambarkan unsur kekitaan, Wirhaftigkeit; sedangkan lingkaran-lingkaran yang bergaris tengah itu menggambarkan daerah gerak individu dengan sesama manusia.
1. Semakin besar (dalam) rasa rendah diri maka semakin besar (tinggi) usaha memegahkan diri, dan sebaliknya. Jadi misalnya rasa rendah diri -40 maka usaha memegahkan diri +40, dan selanjutnya.
2. Semakin besar Inchhaftigkeit maka semakin akan kecil Wirhaftigkeit serta daerah gerak dalam masyarakat dan sebaliknya. Jadi misalnya pada Inchhaftigkeit berdaerah -40 - - - +40 Wirhaftigkeit akan berdaerah a - - - b dan selanjutnya.
Secara teori ada dua sikap hidup yang ekstrem, yaitu :
a. Garis tegak lurus tak terhingga dan garis serta lingkungan mendatar lenyap sehingga hanya merupakan titik; orang demikian ini segala tingkah lakunya hanya berhubungan dengan dirinya sendiri relasi dan dengan orang lain tidak ada (sakit jiwa).
b. Garis serta lingkaran mendatar tak terhingga sehngga garis tegak lurus melenyap; orang demikian menyangkutkan segala tindakannya dengan kekitaan, Inchhaftigkeit terkikis habis (orang keramat).
3. Apersepsi bertendes dan dresat
Apersepsi bertendes yaitu tendens yang menyebabkan orang menyimpang dari kenyataan dalam mengadakan apersepsi. Apersepsi bertendes semakin mendalam dan menghasilkan dresat. Dresat adalah kebiasaan memandang segala sesuatu dari sudut tertentu dan bersifat beku, nampak sebagai dresur. Dresur itu bersifat memaksa kepada penderitanya sebagai hukum alam, menekan kebebasan batin, dan mendorong ke arah ketidakberanian.
4. Umfinalisierung
Umfinalisierung menggambarkan perbuatan yang dilakukan dengan tidak semestinya, tetapi menurut nyatanya menuju ketujuan yang wajar, namun terpengaruh oleh penghargaan dalam hubungan dengan orang lain, demi kepentingan diri sendiri. Misalnya seorang anak membuat rumah-rumahan bukan berarti membuat rumah sebenarnya tetapi ingin mendapatkan pujian dari teman-temannya.
5. Lingkaran Setan (Teufelkreis) dan proses pencernaan (Klarung Proses)
Orang mungkin tidak berani menghadapi kenyataan, karena sangat terikat dengan rasa akunya, jadi sangat menderita rasa rendah diri, hal ini mendorong untuk berusaha menutup kekurangannya atau mencapai kompensasi. Jika usaha ini gagal maka rasa rendah diri akan lebih mendalam, usaha ke arah kompensasi akan semakin kuat. Jadi alam hal ini individu seolah-olah dilingkari oleh pagar yang menakutkan yang makin lama makin bertambah sempit daerahnya sehingga akan mengurung dalam kesukaran. Inilah yang disebut Lingkaran Setan
Keterangan Gambar :
L1: Kesukaran hidup yang pertama di hadapi
A: Usaha kompensasi untuk mengatasi/menembus L1 ; Usaha ini gagal lalu menimbulkan L2 .
L2: Rintangan hidup yang baru.
B : Usaha untuk menembus L2; usaha ini gagal dan menimbulkan L3
L3: Rintangan hidup yang baru
C : Usaha untuk menembus L4 , jika usaha gagal maka menimbulkan L4 , dan seterusnya.
Kejadian yang digambarkan diatas akan mencapai taraf kritis. Dalam krisis ini mungkin sekali individu yang bersangkutan itu sadar akan kesesatannya. Inilah namanya proses pencerahan. Proses pencerahan melewati berbagai fase, yaitu :
a. Fase Pertama adalah fase mendapatkan pengertian yang benar.
b. Fase Kedua adalah berani menghadapi kenyataan hidup yang sewajarnya.
c. Fase Selanjutnya adalah berani mengatasi kesukaran hidup secara wajar.
Dengan terjadinya proses pencerahan ini terjadilah perubahan besar dalam diri indiviu yang bersangkutan.
B. PSIKOLOGI INDIVIDU DALAM TEORI ALLPORT
1. Penjelasan Psikologi Individu menurut Teori Allport
Dalam psikologi di bahas mengenai kuantifikasi atau pencarian dasar-dasar tak sadar yang mendorong tingkah laku manusia. Dalam situasi ilmiah yang demikian itu mendorong Gordon W. Allport mengambil jalannya sendiri yang berbeda dari pandangan umum, dia mengadakan penyelidikan secara kualitatif dan mengutamakan dorongan-dorongan sadar. Pemikiran yang teliti dan sistemaits dapat mempersatukan gagasan-gagasan yang berasal dari berbagai pemikiran terkenl dalam lapangan pdikologi seperti ahli-ahli psikologi Gestalt, W. Stern, W. James McDougall dari psikologi Gestalt dan Stern.
Gordon W. Allport lahir pada tahun 1897 di Indiana, Amerika Serikat. Di besarkan di Cleveland. Ayahnya seorang Dokter, saudaranya tiga, semua laki-laki. Dia menyelesaikan pelajaran “Undergraduate” di Harvard University. Tahun 1919 menyelesaikan pelajarannya dengan keahlian ilmu pokok Ekonomi dan Filsafat, dan mengajar di Istanbul, Turki dalam mata kuliah Sosiologi dan Bahasa Inggris. Tahun 1922 dia mendapat gelar Ph.D dalam bidang Psikologi. Antara tahun 1922-1924 dia belajar di luar negeri seperti Berlin, Hamburg, Cambridge. Hingga pada tahun 1926 dia di angkat menjadi guru besar pembantu di Darmouth College Universit selama 4 tahun dan kembali ke Harvard serta menjadi pemegang utama dalam peranan pembentukan Department of Social relations di Harvard University. Karena latar belakangnya pengalaman mengajar di perguruan tinggi, maka dalam tulisannya Allport menunjukkan perhatian yang besar pada segi didaktisnya. Selama kariernya itu Allport menerima banyak kehormatan dengan di pilih sebagai presiden “The American Psychological Association” sehingga banyak karya dan bukunya di kenang oleh para ahli psikologi.
2. Gambaran mengenai pendirian Allport
Karena daerah kerjanya luas, maka tidak untuk menandai sikap-sikap khas pendiriannya. Namun hal tersebut juga dapat dilakukan.
a. Tulisan-tulisannya selalu menunjukkan usaha untuk mementingkan sifat komplek yang unik dan khas daripada tingkah laku manusia. Sifat kompleks yang beragam pada individu itu mempunyai dasar kebulatan atau kesatuan (unitas). Kebulatan tingkah laku dan pentingnya dorongan sadar ini yang menyebabkan Allport mementingkan gejala yang di sebut self atau ego.
b. Bagi Allport, tidak ada kontinuitas antara formal dan tak formal , antara anak dan orang dewasa, antara manusia dan hewan. Teori seperti Psikoanalisi mungkin sangat berguna untuk tingkh laku yang tak formal, tetapi akan sedikit sekali gunanya menghadapi tingkah laku formal. Dalam bukunya Scientific models and humans morals (1924) dia mengemukakan bahwa dengan memkai sebagai model mesin, hewan, anak, anak, tidak dapat didsarkan yang cukup kuat untuk menyusun teori yng bermanfaat mengenai tingkah laku manusia.
c. Penggunaan metode dan penemuan-penemuan psikologis di dalam tindakan, di mana usaha dilakukan untuk memperbaiki keadaan sosial yang tak di inginkan merupakan hal yang sangat dipentingkan bagi Allport. Sifat kompleks yang ada pada manusia itu terlalu besar untuk dimengerti secara sempurna oleh metode-metode dan konsepsi ahli psikologi.
d. Allport menyatakan bahwa karyanya terutama di tujukan pada masalah-masalah empiris dan tidak untuk mendapat sesuatu kesatuan metodologi dan teori.
3. Pokok-pokok teori Allport.
a. Struktur dan dinamika kepribadian.
Dalam teori-yeori yang lain dalam rangka pembicaraan stuktur, dinamika, dan perkembangan kepribadian. Rangka ini tidak dapat membicarakan teori Allport, karena bagi Allport, stuktur kepribadian itu dlam sifat-sifat dan tingkah laku yang didorong sifat-sifat. Tetapi semua pengertian itu diterima dan dianggap penting, namun tekanan utama diletakkan pada sifat, sedangkan di samping itu sikap dan intensi diberinya kedudukanyang kira-kira sama, sehingga ada yang menamakan psikologi Allport itu adalah “trait psikologi”.
• Kepribadian dan Watak
Bagi Allport, definisi bukanlah sesuatu yang dipanang enteng. Menurut Allport, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya (Allport, 1951, p.48). Sedangkan Definisi watak, Allport menunjukkan arti normatif, dia menyatakan bahwa “character is personality evaluated and personality is character devaluated” (Allport 1951, p.52).
• Temperamen
Temperamen diposisikan sangat erat diposisikan hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis karena sedikit sekali mengalami motivasi di dalam perkembangannya. Bagi Allport, temperamen adalah bagian khusus dari kepribadian yang di berikan definisi demikian “Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat-sifat emosi individu, juga termasuk mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara dari fluktuasi dan intensitat suasana hati. Gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional dan karenanya terutama berasal dari keturunan” (Allport, 1951, p.54).
• Sifat (trait)
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberikan definisi demikian “Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama memulai secara membimbing tingkah laku adaptif dan ekpresif secara sama” (Allport, 1951, p. 289). Perbedaan sifat dengan beberapa pengertian lain yaitu Kebiasaan, Sikap, dan Tipe, menjelaskan Sifat dan Kebiasaan kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan tetapi sifat itu lebih umum baik dalam situasi yang di cocokinya, sedangkan Sifat dan Sikap kedua-duanya adalah hasil dari faktor genetis dan belajar. Selanjutnya Sifat dengan Tipe, menjelaskna bahwa sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan tipe melah menyembunyikannya
• Proprium
Allport mengemukakan hendaknya semua fungsi self atau ego ini disebut sebagai fungsi proporium (propiate function) daripada kepribadian. Dalam bidang inilah terdapat akar daripada ketetapan (consistensy) yang menandai sikap intensi dan evaluasi. Proprium ini tidak dibawa sejak lahir, tetapi berkembang di dalam perkembangan individu.
• Otonomi Fungsional (Functional Autonomy)
Telah disebutkan individu itu menjangkau ke masa depan dan bahwa tujuan-tujuannya merupakan faktor yang menentukan yang penting bagi tingkah lakunya kini. Pada pokoknya prinsip itu menyatakan bahwa aktivitas tertentu atau bentuk tingkah laku tertentu dapat menjadi akhir atau tujuan sendiri walaupun dalam kenyataanya mula-mula terjadi karena sesuatu alasan lain. Tiap tingkah laku, sederhana atau kompleks, walaupun mula-mula diasalkan dari tegangan organis, dapat terus berlangsung dengan sendirinya tabpa adanya faktor biologis yang memperkuat baginya. Otonomi fungsional menyatakan bahwa pemburu akan tetap berburu walaupun tidak ada arti instrumentalnya artinya tanpa ada dorongan agresi ataupun kebutuhan-kebutuhan yang lebih pokok dari itu yang mendasari perbuatan itu.
b. Perkembangan Kepribadian
Melihat teori otonomi fungsional itu nyatalah bahwa individu itu lahir dari itu mengalami perubahan-perubahan yang penting.
• Kanak-kanak
Bagi Allport, pertumbuhan merupakan proses diferensiasi dan integrasi yang berlangsung secara terus menerus. Jadi beberapa tingkah laku anak itu merupakan perintis bagi pola-pola kepribadian selanjutnya. Allport menyimpulkan, bahwa setidak-tidaknya pada bagian kedua tahun petama anak telah menunjukkan dengan pasti sifat-sifat yang khas.
• Transformasi Kanak-kanak
Prisnsip ini menjelaskan bahwa apa yang mula-mula alat untuk tujuan biologis dapat menjadi motif yang otonom yang medorong dan memberi arah tingkah laku.
• Orang Dewasa
Pada orang dewasa faktor-faktor yang mendorong terjadinya tingkah laku adalah sifat-sifat yang terorganisasikan dan selaras. Sifat ini timbul dari berbagai cara dari perlengkpan-perlengkapan yang dimiliki neonatus. Pada umumnya orang akan lebih tahu apa yang akan dikehendaki di kerjakan seseorang, dia akan tahu rencana-rencana yang disadarinya daripada ingatan-ingatan tertentu.
C. Penerapan Psikologi Individual dalam Pemahaman Tingkah Laku
Dalam pemahaman tingkah laku, psikologi individual memberikan sumbangan :
a. Pengertian mengenai rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, konstelasi keluarga, serta dorongan pokok dalam diri manusia.
b. Praktik di bidang pendidikan dalam bentuk upaya penentuan tujuan-tujuan yang susila berupa keharusan memikul tanggung jawab, keberanian menghadapi kesukaran hidup, mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan, dan upaya untuk mnyelami diri sendiri dan membuka kecenderungan-kecenderungan egoistis yang tersembunyi.
c. Optimisme dalam bidang pendidikan dalam mengembangkan karir yang selalu mengahadapi segala rintangan dan hambatan dalam mencapai tujuan pendidikan.
D. Penerapan Psikologi Individual dalam Konseling dan Psikoterapi.
Adler adalah tokoh utama perintis terapi keluarga yang berkontribusi besar dibidang konseling sekolah. Dewasa ini, konsep Adlerian digunakan juga kasus-kasus anak yang orang tuanya bercerai atau tidak mendapat hak/perlakuan sebagai anak.
Menurut Adler, Neurosis berarti tujuan hidup tidak akan realitis dan finalisme semu. Karena tidak memeperhitungkan kapasitas keterbatasan dan lingkungan sosial yang ada. Seseorang akan merasa rendah diri dan merasa di tolak karena mungkin menetapkan tujuan yang terlalu tinggi sehingga tidak dapat di jangkau. Apabila merasa kalah dan tidak mampu mengatasi situai-situasi tertentu , seperti kegagalan dalam pendidikan, dia berusaha menghindari situasi-situasi yang memungkinkannya untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk bekerja secara efektif. Penderita neurotik juga memilih gaya hidup yang tidak tepat sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Dalam upaya mereka mengimbangi perasaan lemah, penderita neurotik cenderung mengompensasi secara berlebihan. Alder menunjukkan bahwa sebenarnya penderita neurotik mengalami gaya hidup yang salah. Penderita neurotik berjuang untuk kebesaran pribadi. Mereka bertindak seolah-olah lemah, seolah-olah pencundang. Meski dalam kenyataannya meraka dapat eksis dan bertindak secara konstruktif, mereka memanfaatkan kelemahan khayali dan menggunakan sebagai alasan, bukan menjadi tantangan untuk kehidupan secara konstruktif. Mereka kecenderungan menggunakan pengaman sebagai kompensasi untuk menangkal inferioritas secara maladaptive, buka dengan cara adaptif. Memang kita semua menggunakan pelindung sebagai mekanisme pertahanan diri, tetapi orang neurotik menggunakannya secara berlebihan.
Teori Adler kadang di sebut perspektif sosioteologis ketika membahas perjuangan konstan individu mencapai tujuan mereka. Adler juga menekankan pentingnya pengembangan minat sosial klien untuk kemudian mendidik kembali mereka agar mampu hidup ditengah masyarakat sebagai pribadi yang sanggup memberikan sesuatu bagi masyarakat, bukan cuma menerima atau menuntut. Ketika seseorang datang untuk menjalani terapi, diasumsikan ia tengah mengalami ketidakkongruenan dan ketidaknyamanan di dalam bekerja, persahabatn, dan cinta. Proses konseling kemudian dilihat secara terapis dan klien bekerjasama untuk membantu klien mengembangkan kesadaran, sikap dan perilaku yang lebih sehat sehingga sanggup berfungsi lebih penuh di masyarakat.
Proses Adlerian melibatkan empat tahap yaitu, membangun relasi, mendignosis, menginterpretasi dan mendapatkan pemahaman, serta mengorientasi ulang. Pada sesi membangun relasi, konselor menetapkan sebuah relasi dengan klien lewat interviu subyektif maupun obyektif yang didalamnya terbantu klien merasa nyaman. Kemudian tahap diagnostik meliputi interviu gaya hidup, prosedur asesmen formal yang melihat hal-hal seperti konstelasi keluarga, persepsi mengenai hubungan dengan saudara-saudara kandung, serta mimpi-mipmi terus berulang. Fase interpretasi adalah waktu ketika konselor dan klien mengembangkan pemahaman dan interviu gaya hidupnya tentang “kekeliruan dasar” klien dengan menganalisis dan mendiskusikan keyakinan, tujuan hidup, serta gerakan yang dikembangkan klien diawal kehidupannya dan menjamin pola, sikap hidup perilaku, pikiran, dan emosi. Tahap pengorientasian-ulang mungkin paling bkritis karena di tahap inilah terapis membantu konseli bergerak dari pemahaman intelektual menuju perkembanga aktual dan ekpresi sikap dan perilaku yang lebih sehat. Di titik ini dukungan konselor, penguatan, pengarahan, dan pembinaan diupayakan secara aktif untuk membuat sejumlah perubahan-perubahan bagi cara-cara yang sehat dalam berpikir dan berperilaku menjadi cara-cara yang lebih memuaskan bagi klien.
Adler tidak menetapkan aturan atau metode yang kuat dan ketat dalam pelaksanaan terapinya. Ia percaya bahwa gaya hidup klien akan menentukan prosedur yang dilakukan. Frekuensi kontak kliens dan terapis juga cukup sekali atau dua kali seminggu. Tujuan pertama terapis Adlerian adalah menjalin kontak dengan klien kemudian membangun kepercayaan. Kepercayaan diri dibangun dengan menempatkan klien sebagai rekan, sehingga dapat membangun kerjasama. Kedua, terapis berusaha untuk mengungkapkan kesalhan gaya hidup klien dan memberikan wawasan tentang kondisi riil sekarang. Klien dibimbing secara perlahan-lahan untuk mengenali kesalahan dalam tujuan pribadi, gaya hidup, sikap dalam kehidupannya
Terapi Adlerian berusaha untuk medorong kilen menghadapi masalah dan mengembangkan cara yang konstruktif. Terapis berusaha menanamkan keberanian bertindak “seolah-olah” membatasai fiksi lama. Terapis tidak membuat keputusan dan mempertanggungjawabkan kepada klien, tetapi bersifat membantu klien dalam mengambil keputusan sendiri dan mendorong klien untuk berani menerima tugas baru dengan penuh tanggung jawab. Dalam pengertian ini terapis memainkan peran sebagai pendidik yang mendidik penderita neurotik untuk mengembangkan seni hidup yang konstruktif. Adler percaya bahwa hanya dengan mensubkordinasikan kepentingan pribadi demi mencapai kesejahteraan mayarakat kita bisa mencapai superioritas, karena sesuatu yang tepat dan tak terelakkan dari semua kompensasi terhadap kelemahan alami manusia adalah bahwa keadilan sosial untuk semua.
Adler juga memiliki pengaruh sangat besar terhadap psikiter Hanry Stack Sullivan, orang yang mengembangkan teknik observatif parsitipatif. Teknik ini didasarkan pada keyakinan bahwa seorang pengamat dalam hubungan intepersonal akan lebih efektif apabila menjadi peserta di dalamnya. Sullivan juga menciptakan istilah co-depenency yang sering digunakan di Al Anon (Alcoholic Anomynious), sebuah organisasi bagi para pecandu alkohol, yang saling membantu untuk melepas kebergantungan pada alkohol
Konsep Adler juga digunakan untuk mengembangkan metode pendidikan yang lebih efektif dan pengasuhan anak (Dreifurs, 1952-1953; Binter, 1991). Adler mendorong calon orang tua untuk terlibat dalam pelatihan pengasuhan . Dia juga mengembangankan kreativitas diri dan membangun kekuatan-kekuatan yang tepat dalam membantuk tujuan dan gaya hidup yang tepat dalam memahami kesalahan-kesalahan yang terjadi selama ini. Melalui pendidikan, Adler percaya bahwa minat sosial dan keadilan sosial dapat dikembangkan dan selanjutnya menjadi cara paling tepat untuk mengompensasi kelemahan pribadi kita. Adler aktif dalam kegiatan bimbingan klinis anak dan melibatkan diri dalam reformasi pidana. Adler secara radikal menentang jenis terapis yang terlalu menekanka kemerdekaan dari egosentris (May, 1991).
Langganan:
Postingan (Atom)





